UBS menurunkan pandangannya terhadap pasar saham Amerika Serikat (AS) dengan menyoroti sejumlah risiko yang dinilai meningkat, mulai dari potensi pelemahan dolar, valuasi yang dianggap terlalu mahal, hingga ketidakpastian kebijakan di Washington. Bank investasi tersebut menilai dominasi saham AS yang kuat dalam beberapa tahun terakhir mulai kehilangan tenaga.
Head of Global Equity Strategy UBS, Andrew Garthwaite, mengatakan UBS memangkas rekomendasi saham AS menjadi “benchmark” dalam portofolio saham global yang terdiversifikasi penuh. Menurutnya, beberapa faktor yang sebelumnya menopang kinerja unggul saham AS kini tidak lagi sekuat sebelumnya.
Salah satu kekhawatiran utama UBS adalah risiko pelemahan dolar AS. UBS memperkirakan euro berpotensi menguat hingga USD 1,22 pada akhir kuartal pertama 2026. UBS juga melihat adanya risiko struktural penurunan dolar yang bersifat asimetris.
Secara historis, ketika indeks dolar berbobot perdagangan turun 10%, saham AS cenderung berkinerja lebih rendah sekitar 4% jika dihitung tanpa lindung nilai. Kondisi ini menjadi salah satu pertimbangan UBS dalam menilai prospek relatif saham AS dibanding pasar lain.
Sejauh 2026, pasar saham di luar AS justru menunjukkan kinerja yang lebih kuat. Indeks MSCI World ex-US naik sekitar 8%, sementara S&P 500 relatif stagnan. Indeks Nikkei 225 Jepang tercatat melonjak 17% dan Stoxx Europe 600 menguat 7%, yang dinilai mencerminkan rotasi modal keluar dari saham AS.
Selain faktor mata uang, UBS menyoroti melemahnya dorongan pembelian kembali saham (buyback) yang selama ini menjadi salah satu penopang pertumbuhan laba per saham (EPS). UBS menilai imbal hasil buyback di AS kini hanya setara dengan pasar global, sehingga tidak lagi menjadi keunggulan kompetitif. Bahkan, gabungan imbal hasil dividen dan buyback di AS disebut hanya sekitar setengah dari level Eropa.
“Imbal hasil buyback tidak lagi istimewa dan sebelumnya hal ini merupakan pendorong penting arus dana, laba per saham (EPS), dan valuasi,” tulis Garthwaite.
Dari sisi valuasi, UBS menghitung rasio harga terhadap laba (price-earnings ratio) saham AS yang disesuaikan sektoral kini 35% lebih tinggi dibandingkan pasar internasional. Angka ini jauh di atas premi rata-rata sejak 2010 yang disebut sekitar 4%. UBS juga mencatat sekitar 60% sektor di AS diperdagangkan dengan valuasi lebih tinggi dibanding rekan globalnya, bahkan melampaui rata-rata historisnya sendiri.
UBS turut menilai ketidakpastian kebijakan di bawah Presiden Donald Trump menjadi faktor penekan tambahan. Tahun ini diwarnai perubahan kebijakan tarif, usulan pembatasan bunga kartu kredit, potensi pembatasan investasi private equity di sektor perumahan, pengawasan harga obat, hingga wacana pembatasan dividen dan buyback perusahaan pertahanan.
Meski demikian, UBS belum sepenuhnya pesimistis terhadap pasar saham AS. Garthwaite menilai ekonomi AS dan pasar sahamnya kerap unggul pada fase awal potensi gelembung pasar. UBS juga memperkirakan adopsi kecerdasan buatan (AI) di AS akan tetap lebih cepat dibandingkan sebagian besar kawasan lain, kecuali mungkin China, yang dinilai dapat menopang pertumbuhan laba di berbagai sektor utama.
Strategis UBS lainnya, Sean Simonds, menetapkan target akhir tahun untuk S&P 500 di level 7.500. Target ini sedikit di bawah rata-rata proyeksi 7.629 dari 14 analis top yang disurvei CNBC Pro.
Dengan berbagai pertimbangan tersebut, UBS melihat pasar saham AS masih memiliki peluang, namun menilai tingkat risikonya kini lebih besar dibanding beberapa tahun terakhir.

