Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tajam pada perdagangan Rabu (4/3). IHSG sempat anjlok hingga 5,6% secara intraday sebelum ditutup turun 4,57% ke level 7.577,1, di tengah tekanan jual yang meluas.
Dari total 910 saham yang diperdagangkan, hanya 54 saham yang berakhir di zona hijau. Dari sisi kontribusi terhadap pelemahan indeks berdasarkan kapitalisasi pasar, Telkom Indonesia (TLKM) menjadi salah satu penekan terbesar dengan kontribusi -26,4 poin, disusul Amman Mineral Internasional (AMMN) -22,1 poin dan Bumi Resources Minerals (BRMS) -19,5 poin.
Pelemahan IHSG terjadi seiring merosotnya pasar saham Asia, yang dipicu kekhawatiran berlanjut terkait eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Di kawasan, Korea Selatan mencatat penurunan paling dalam ketika indeks Kospi anjlok 12% dan sempat mengalami penghentian perdagangan (halt) selama 20 menit yang dikaitkan dengan likuidasi paksa pada saham terkait AI. Di Thailand, indeks SET turun hingga 8,6% dan mengalami halt 30 menit, sementara Nikkei 225 Jepang turun 3,6% dan Hang Seng Hong Kong melemah 2% di tengah arus keluar dari saham-saham semikonduktor.
Selain faktor eksternal, sentimen domestik turut menekan pasar. Menjelang penutupan perdagangan, Fitch mengumumkan revisi outlook kredit Indonesia dari “stable” menjadi “negative” dengan mempertahankan peringkat di level BBB. Fitch menyatakan revisi tersebut mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta terkikisnya konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan di tengah meningkatnya sentralisasi kewenangan pembuatan kebijakan, yang dinilai dapat melemahkan prospek fiskal jangka menengah, merusak sentimen investor, dan memberi tekanan pada buffer eksternal. Sebelumnya, Moody’s juga melakukan revisi serupa pada Februari 2026.
Di pasar valuta asing, rupiah melemah sekitar 0,17% ke level 16.885 per dolar AS. Sementara itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik 6,9 basis poin ke 6,61%. Pada hari yang sama, pasar saham mencatat net foreign outflow sebesar Rp117,9 miliar.
Pergerakan komoditas turut menjadi perhatian. Harga minyak tercatat di 84,0 atau naik 3,19%, sementara batu bara berada di 134,0 turun 0,74%. CPO berada di 4.180 turun 0,14% dan nikel di 17.120 turun 0,23%. Emas tercatat 5.192 naik 1,33%.
Di tengah kekhawatiran geopolitik, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan pemerintah siap menyesuaikan anggaran belanja untuk menjaga defisit fiskal tetap di bawah batas 3% terhadap PDB, seiring risiko kenaikan harga minyak. Ia menyebut, jika harga minyak naik ke kisaran US$90–92 per barel dan anggaran tidak disesuaikan, defisit APBN 2026 berpotensi mencapai 3,6% terhadap PDB. APBN 2026 mengasumsikan harga minyak mentah domestik di US$70 per barel. Purbaya juga menyatakan anggaran program Makan Bergizi Gratis dapat dipangkas untuk menghemat anggaran sebesar Rp100 triliun.
Di sisi korporasi, Medco Energi Internasional (MEDC) menyampaikan total produksi migas 2025 naik 2,7% secara tahunan menjadi 156 MBOEPD, sejalan dengan guidance 155–160 MBOEPD. Manajemen juga memberikan guidance pertumbuhan produksi sekitar 6,5% pada 2026 dengan kisaran 165–170 MBOEPD, yang disebut sebagai level produksi tertinggi sepanjang sejarah perseroan.
Indo Tambangraya Megah (ITMG) menargetkan volume penjualan batu bara 6,8 juta ton pada 1Q26, dengan komposisi 45% fixed, 54% indexed, dan 1% belum terjual. Target produksi 1Q26 dipatok 5,1 juta ton, dengan estimasi stripping ratio 10,1x.
Bank Negara Indonesia (BBNI) memperbarui rencana buyback saham dengan revisi alokasi dana dari Rp1,5 triliun menjadi sekitar Rp905,5 miliar. Nilai maksimum buyback yang direvisi ini telah mendapat persetujuan OJK dan rencana akan dibahas dalam RUPST pada 9 Maret 2026, dengan periode pelaksanaan 9 Maret 2026 hingga 8 Maret 2027.
Solusi Sinergi Digital (WIFI) berencana mengubah peruntukan dana hasil rights issue 2025. Dana Rp5,89 triliun yang sebelumnya dialokasikan untuk pembangunan jaringan fiber-to-the-home (FTTH) melalui penyertaan modal ke PT Integrasi Jaringan Ekosistem, direvisi menjadi penyertaan modal ke PT Telemedia Komunikasi Pratama untuk proyek fixed wireless access (FWA). Rencana ini akan dibahas dalam RUPSLB pada 8 April 2026.
Matahari Department Store (LPPF) mengusulkan pembagian dividen tahun buku 2025 sebesar Rp250 per saham, yang mengindikasikan dividend yield 13,6% berdasarkan harga saham LPPF per Rabu (4/3).
Dari sisi transaksi kepemilikan, Komisaris Utama Surya Citra Media (SCMA) Adi Wardhana Sariaatmadja membeli sekitar 241,8 juta saham SCMA dengan harga rata-rata Rp276 per lembar atau senilai sekitar Rp66,7 miliar pada 26 Februari 2026, sehingga kepemilikan langsungnya naik dari sekitar 0% menjadi 0,33%. Pengendali Folago Global Nusantara (IRSX), PT Matra Tri Abadi, membeli sekitar 31,2 juta saham IRSX pada 3 Maret 2026 dan menaikkan kepemilikan langsung dari 63,44% menjadi 63,95%. Sementara itu, pemegang saham Bakrie & Brothers (BNBR), Port Fraser International Ltd., menjual 2,95 miliar saham pada 26 Februari 2026 sehingga porsi kepemilikan langsungnya turun dari 26,01% menjadi 24,31%.
Di papan perdagangan, sejumlah saham mencatat penurunan tajam, di antaranya FILM turun 14,74%, BUVA turun 14,52%, BRMS turun 13,27%, dan RATU turun 12,87%.
Ke depan, pasar akan mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah serta potensi de-eskalasi yang dinilai dapat menjadi faktor kunci pembalik sentimen global. Di sisi lain, konflik berkepanjangan berisiko menjaga harga minyak tetap tinggi dan menekan kondisi fiskal Indonesia sebagai negara net importir minyak, terutama bila tidak diimbangi kenaikan harga komoditas ekspor utama seperti batu bara dan CPO.

