BERITA TERKINI
Kadin: WFH Bisa Tekan Konsumsi BBM, Namun Bukan Solusi Jangka Panjang

Kadin: WFH Bisa Tekan Konsumsi BBM, Namun Bukan Solusi Jangka Panjang

Kalangan dunia usaha menilai kebijakan work from home (WFH) dapat menjadi solusi jangka pendek untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi pasokan dan harga energi global.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Erwin Aksa mengatakan penerapan WFH terbukti berdampak dalam menurunkan konsumsi BBM, terutama ketika mobilitas masyarakat dibatasi pada masa pandemi Covid-19. Namun, ia menegaskan WFH tidak bisa dijadikan solusi jangka panjang.

Menurut Erwin, WFH lebih tepat dipandang sebagai langkah sementara yang efektif untuk sektor tertentu, khususnya jasa dan perkantoran di kota-kota besar. Ia menyebut Kadin mendukung penerapannya secara selektif dan fleksibel, terutama di wilayah dengan tingkat kemacetan tinggi seperti Jakarta, dengan tetap menjaga produktivitas dan iklim usaha.

Selain mendorong kebijakan WFH secara terbatas, Kadin mengusulkan sejumlah prioritas untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Di antaranya penguatan cadangan minyak strategis, percepatan konversi BBM ke BBG untuk kendaraan operasional—terutama armada logistik dan transportasi umum—serta efisiensi energi di sektor industri melalui insentif bagi perusahaan yang menerapkan audit dan manajemen energi.

Erwin juga menilai penguatan kapasitas kilang dalam negeri perlu dipercepat untuk mengurangi ketergantungan impor. Ia mengingatkan, eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi menekan rantai pasok energi global dan memicu kenaikan harga BBM, yang pada akhirnya dapat membebani anggaran negara serta meningkatkan biaya produksi industri dalam negeri.

Ia menjelaskan kawasan Timur Tengah menyumbang sekitar 30%–35% pasokan minyak dunia, sehingga setiap eskalasi konflik dapat langsung memengaruhi sentimen pasar dan mendorong kenaikan harga minyak mentah. Bagi Indonesia yang masih mengimpor sekitar 40% kebutuhan minyaknya, kenaikan harga minyak global dinilai dapat membebani APBN melalui subsidi energi sekaligus menaikkan biaya produksi industri.

Meski begitu, Erwin menyebut Indonesia belum berada dalam kondisi krisis energi dalam waktu dekat. Namun, risiko tekanan fiskal akibat membengkaknya subsidi BBM tetap perlu diantisipasi apabila harga minyak dunia bertahan tinggi.

Dalam konteks tersebut, Kadin mendorong pemerintah memperkuat cadangan energi strategis dan mempercepat diversifikasi bauran energi untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak secara bertahap. Erwin menilai tekanan global saat ini juga dapat menjadi momentum untuk mempercepat transisi energi di Indonesia.