Perekonomian global kembali berpotensi menghadapi stagflasi, kondisi ketika perlambatan aktivitas ekonomi terjadi bersamaan dengan kenaikan inflasi. Risiko ini dinilai menguat setelah konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran memicu tekanan pada berbagai harga komoditas, seiring terganggunya salah satu jalur utama perdagangan migas dunia, Selat Hormuz.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan gangguan di Selat Hormuz telah meningkatkan biaya pengapalan dan logistik, yang kemudian berdampak pada rantai pasok global. Menurutnya, kondisi tersebut mendorong kenaikan harga komoditas di pasar internasional.
“Sehingga ini meningkatkan biaya pengapalan dan logistik naik jadi ada gangguan global supply chain. Kesimpulannya harga komoditas global naik, emas, coal, nikel, pertanian juga naik. Yang terbaru plastik karena ada supply chain, ujungnya ada penurunan produksi,” kata Destry dalam acara Central Banking Forum 2026 CNBC Indonesia di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Destry menjelaskan, kenaikan harga komoditas yang disertai penurunan produksi berisiko menahan aktivitas ekonomi global dan menekan laju pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) dunia. Ia menekankan bahwa tekanan inflasi yang muncul dalam situasi ini lebih disebabkan gangguan pasokan, bukan karena permintaan yang meningkat.
“Dampak nya PDB global akan melambat tapi inflasi akan meningkat. Ini namanya stagflasi, enggak bagus ya. Respons kebijakan menjadi penting,” ujarnya.
Merespons risiko tersebut, Destry menilai bank sentral di berbagai negara akan cenderung lebih berhati-hati dalam meramu kebijakan moneter bersama pemerintah melalui kebijakan fiskal. Ia menyebut sejumlah negara berpotensi mengambil kebijakan fiskal yang lebih longgar, sementara arah kebijakan moneter yang sebelumnya cenderung menurun akan dijalankan dengan kehati-hatian.
“Beberapa negara kebijakan fiskalnya akan longgar. Moneter yang tren ke bawah akan lebih berhati-hati karena sekarang lomba membuat aset domestik menjadi menarik,” kata Destry.