Saham-saham sektor barang baku, transportasi, dan konsumen nonprimer menjadi pemberat utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang perdagangan hari ini. Masing-masing sektor tercatat melemah 7,42%, 7,23%, dan 6,68%.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut menekan pergerakan IHSG. Telkom Indonesia (TLKM) menjadi penekan terbesar dengan kontribusi 26,38 poin, diikuti Amman Mineral Internasional (AMMN) 22,07 poin, Bumi Resources Minerals (BRMS) 19,48 poin, dan Bank Central Asia (BBCA) 19,01 poin.
Tekanan berikutnya datang dari DCI Indonesia (DCII) yang membebani 13,84 poin, Dian Swastatika Sentosa (DSSA) 12,96 poin, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) 12,61 poin, Chandra Asri Pacific (TPIA) 9,88 poin, Bank Mandiri (BMRI) 9,35 poin, serta Barito Pacific (BRPT) 8,05 poin.
Pelemahan tidak hanya terjadi di Indonesia. Bursa saham Asia lainnya juga bergerak di zona merah. KOSDAQ dan KOSPI (Korea Selatan) masing-masing melemah 14% dan 12%. SETI (Thailand) turun 5,58%, TAIEX (Taiwan) 4,35%, TOPIX (Jepang) 3,67%, dan NIKKEI 225 (Tokyo) 3,61%.
Indeks PSEI (Filipina) melemah 2,13%, Straits Times (Singapura) 2,11%, Hang Seng (Hong Kong) 2,01%, SENSEX (India) 1,4%, CSI 300 (China) 1,14%, Shanghai Composite (China) 0,98%, KLCI (Malaysia) 0,8%, serta Shenzhen Comp. (China) 0,53%.
Dengan mayoritas bursa di kawasan mencatat penurunan, pasar Asia disebut berubah menjadi “lautan merah”, sementara IHSG disebut menjadi yang terlemah dan terlesu ketiga.
Tekanan di pasar saham Asia dikaitkan dengan memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Disebutkan, pasukan Israel dilaporkan merebut posisi-posisi baru di sisi Lebanon Selatan untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata 2024, seiring meningkatnya intensitas serangan terhadap Hizbullah yang berjalan paralel dengan perang melawan Iran.
Pada hari keempat serangan udara besar-besaran AS dan Israel terhadap Iran, Israel menyatakan tidak akan mengendurkan serangan di Lebanon sampai Hizbullah dilucuti senjatanya. Bloomberg News melaporkan, Menteri Pertahanan Israel menyebut target operasi yang berlangsung termasuk pemimpin Hizbullah, Naim Qasem.
Konflik di Iran yang memicu lonjakan harga minyak dinilai berpotensi mengganggu rencana pelonggaran kebijakan Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed). Situasi di Selat Hormuz juga menjadi perhatian, karena disebut hampir ditutup sehingga mengganggu logistik regional, memperlambat ekspor, dan mengancam produksi secara lebih luas.
Analis JPMorgan memperkirakan penutupan efektif yang berlangsung lebih dari 25 hari dapat memaksa penghentian produksi. Selat Hormuz juga merupakan rute transit penting bagi LNG. Qatar, yang disebut sebagai eksportir LNG terbesar kedua di dunia dan menyumbang 20% pasokan tahun lalu, harus melewati Selat Hormuz untuk mengirimkan LNG ke pembeli di Asia dan Eropa. Kondisi tersebut dinilai dapat membuat prospek penurunan suku bunga acuan AS menjadi tidak pasti dan memicu kegelisahan pasar.
Dari dalam negeri, pasar saham Indonesia juga dipengaruhi sentimen dari Fitch Ratings yang merevisi outlook penerbitan surat utang global jangka panjang Indonesia dari stabil menjadi negatif, dengan peringkat BBB.
Dalam laporannya, Fitch menyebut revisi prospek mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta erosi konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan Indonesia di tengah meningkatnya sentralisasi otoritas pembuatan kebijakan. Fitch menilai hal tersebut dapat melemahkan prospek fiskal jangka menengah, menekan sentimen investor, dan memberi tekanan pada cadangan eksternal.
Fitch juga menekankan pentingnya mempertahankan kebijakan yang bijaksana, termasuk kepatuhan terhadap batas defisit fiskal 3%. Namun, peningkatan fokus pada target pertumbuhan 8% serta kenaikan pengeluaran sosial dinilai berpotensi mendorong bauran kebijakan fiskal dan moneter yang lebih longgar, sehingga memunculkan risiko bagi stabilitas ekonomi makro dan keuangan.

