Bursa Kripto CFX menyiapkan sejumlah strategi untuk meningkatkan daya saing pasar aset kripto nasional agar mampu bersaing dengan platform global. Salah satu fokus utama yang disoroti adalah upaya menekan kesenjangan biaya transaksi, sehingga aktivitas perdagangan kripto di dalam negeri menjadi lebih menarik bagi pedagang dan investor.
Direktur Utama Bursa Kripto CFX, Subani, mengatakan pihaknya mencermati masukan dari pelaku pasar terkait kebutuhan biaya transaksi yang lebih rendah di Indonesia. Menurutnya, perbedaan biaya dapat memengaruhi pilihan pedagang dan investor dalam menentukan tempat bertransaksi.
Subani juga mengungkapkan masih terdapat perbedaan signifikan antara volume perdagangan kripto di dalam negeri dan di luar negeri. Mengacu pada kajian LPEM Universitas Indonesia (UI), volume perdagangan kripto Indonesia di platform luar negeri disebut lebih dari 2,5 kali lipat dibandingkan volume perdagangan yang berlangsung di platform domestik yang dicatat di Bursa Kripto CFX.
Melihat kondisi tersebut, CFX berupaya menarik kembali aliran transaksi yang selama ini berpindah ke luar negeri. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperkecil selisih biaya transaksi agar pasar domestik dinilai lebih kompetitif dibandingkan pasar global.
Subani menilai, jika volume perdagangan di Bursa Kripto CFX meningkat, dampaknya tidak hanya dirasakan pelaku industri, tetapi juga berpotensi memberi manfaat bagi negara. Ia menyebut peningkatan aktivitas transaksi domestik dapat mendorong penerimaan negara melalui sektor perpajakan.
Langkah penyesuaian biaya transaksi itu, menurut Subani, menjadi bagian dari strategi CFX untuk memperkuat daya saing pasar kripto Indonesia agar dapat setara dengan pasar global.

