BERITA TERKINI
Tender Waste-to-Energy Danantara Masuki Fase Penentuan, Pasar Cermati Kandidat Emiten Lokal

Tender Waste-to-Energy Danantara Masuki Fase Penentuan, Pasar Cermati Kandidat Emiten Lokal

Sektor waste-to-energy (WTE) memasuki fase krusial seiring rencana Danantara mengumumkan pemenang tender tahap pertama pada pertengahan Februari 2026. Proses tender ini telah berjalan sejak November 2025 dan menjadi perhatian pelaku pasar karena dinilai dapat memengaruhi pergerakan saham emiten yang terkait dengan ekosistem WTE.

Pada tahap awal, proyek WTE Danantara mencakup empat kota prioritas, yakni Bogor, Bekasi, Denpasar, dan Yogyakarta. Setelah itu, proyek direncanakan diperluas pada tahap kedua hingga total 10 kota, termasuk Tangerang, Semarang, Medan, serta sejumlah kota besar lainnya, sejalan dengan percepatan program pengelolaan sampah nasional.

Danantara juga telah menetapkan 24 perusahaan global yang lolos Daftar Penyedia Terseleksi (DPT) untuk mengikuti tender WTE tahap pertama. Mayoritas merupakan pemain teknologi asing dan diwajibkan berkolaborasi dengan mitra lokal. Ketentuan ini membuka peluang bagi emiten domestik yang telah memiliki eksposur di rantai bisnis WTE, baik sebagai pengembang, kontraktor EPC (engineering, procurement, construction), maupun penyedia material dan infrastruktur pendukung.

Menurut jadwal yang beredar, pemenang tender tahap pertama akan ditetapkan pada Februari 2026, dengan groundbreaking atau awal konstruksi ditargetkan mulai Maret 2026. Dalam konteks pasar modal, perhatian investor tidak hanya tertuju pada pengumuman pemenang, tetapi juga pada kesiapan proyek serta potensi monetisasi ketika proyek bergerak menuju fase komersialisasi.

Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) disebut memiliki peluang atau keterkaitan dengan agenda WTE. Berikut tiga emiten yang dinilai berpotensi terkait dengan tender WTE Danantara tahap pertama berdasarkan informasi yang tersedia.

PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA)

OASA dinilai berada selangkah lebih maju dibanding sebagian emiten lain karena telah masuk fase eksekusi proyek pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa). Perusahaan ini memiliki dua proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang disebut tidak terkait langsung dengan Danantara karena direncanakan sebelum Danantara berdiri, yakni PSEL Jakarta Barat dan PSEL Tangerang Selatan.

PSEL Jakarta Barat ditargetkan mulai dibangun pada 2026–2027 dan beroperasi komersial bertahap pada 2028 hingga penuh pada 2029. Proyek ini memiliki kapasitas 35,32 MW, dengan estimasi potensi pendapatan sekitar Rp978 miliar per tahun dan laba usaha sekitar Rp645 miliar. Namun, proyek tersebut membutuhkan belanja modal sekitar Rp6,6 triliun, sehingga periode balik modal diperkirakan sekitar 10 tahun. Selain itu, kepemilikan OASA di proyek ini disebut minoritas karena dikerjakan bersama WIKA dan Jakpro, sehingga kontribusinya tidak akan terkonsolidasi penuh ke kinerja OASA.

Adapun PSEL Tangerang Selatan disebut menjadi proyek yang paling relevan bagi OASA. Dengan kapasitas 19,62 MW, proyek ini diperkirakan berpotensi menghasilkan pendapatan sekitar Rp559 miliar per tahun dan laba usaha sekitar Rp444 miliar. OASA memiliki sekitar 76% saham, sehingga laba usaha yang berpotensi masuk diperkirakan sekitar Rp337 miliar per tahun. Dengan belanja modal sekitar Rp2,3 triliun, periode balik modal dinilai lebih cepat, sekitar lima tahun, meski angka-angka tersebut masih berbasis asumsi kasar dengan tingkat kepastian rendah.

Terkait tender WTE Danantara, OASA disebut berpeluang mengincar partisipasi pada proyek PSEL di Bogor dan Denpasar.

PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA)

SOFA disebut belum memiliki proyek WTE atau PLTSa yang berjalan. Namun, posisi perusahaan dinilai cukup jelas karena secara spesifik membidik tender WTE Danantara. Melalui anak usahanya, PT Parivarta Energi Nusantara, SOFA menandatangani perjanjian pembentukan konsorsium dengan Hunan Construction Engineering Group Co. dan Kintan Usahasama Sdn. Bhd.

Konsorsium tersebut disebut dibentuk secara spesifik untuk mengikuti tender proyek WTE yang dikelola Danantara, dengan Hunan tercatat sebagai salah satu peserta resmi lelang PSEL. Meski demikian, hingga saat ini SOFA belum memulai pembangunan PLTSa, belum mencapai COD (commercial operation date), dan belum mencatat pendapatan dari WTE. Dengan demikian, potensi kinerja SOFA dari WTE masih sangat bergantung pada hasil tender.

PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC)

IMPC masuk ke bisnis WTE melalui anak usahanya, PT Sirkular Karya Indonesia (SKI). SKI menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan PT CCEPC Indonesia untuk menjajaki pengembangan proyek WTE di Bali.

Dalam kerja sama ini, SKI berperan sebagai penyedia dukungan investasi, sedangkan CCEPC menangani aspek teknis sebagai kontraktor EPC sekaligus operator O&M (operation & maintenance). Ruang lingkup kolaborasi mencakup penyusunan studi kelayakan, survei lokasi, hingga penilaian karakteristik limbah yang akan diolah.

CCEPC juga menyatakan komitmen untuk mendukung SKI secara eksklusif dalam setiap tender proyek WTE yang diikuti. Meski proyek masih berada pada tahap studi dan belum masuk konstruksi, WTE disebut berpotensi menjadi bisnis tambahan strategis yang melengkapi inisiatif daur ulang dan ekonomi sirkular IMPC, meskipun belum diproyeksikan menjadi kontributor laba utama dalam waktu dekat.

Dengan jadwal pengumuman pemenang pada pertengahan Februari 2026 dan target awal konstruksi pada Maret 2026, pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati perkembangan tender, termasuk kesiapan proyek, struktur kemitraan, serta kejelasan kontrak yang dapat menentukan seberapa cepat potensi bisnis WTE terealisasi.