BERITA TERKINI
Ekonomi Kepri Triwulan IV 2025 Tumbuh 7,89 Persen, Ditopang Industri hingga Perdagangan

Ekonomi Kepri Triwulan IV 2025 Tumbuh 7,89 Persen, Ditopang Industri hingga Perdagangan

Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada triwulan IV 2025 tumbuh 7,89 persen (year on year/yoy). Angka ini meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 7,48 persen (yoy), berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS).

Secara kumulatif sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi Kepri mencapai 6,94 persen (cumulative to cumulative/ctc). Capaian tersebut disebut menjadi yang tertinggi di Sumatera dan melampaui rata-rata pertumbuhan regional sebesar 4,81 persen (ctc).

Kepala BI Kepri Rony Widijarto menyampaikan, mengacu pada data BPS, pertumbuhan positif tersebut ditopang empat sektor utama, yakni industri pengolahan, pertambangan dan penggalian, konstruksi, serta perdagangan. Masing-masing sektor mencatat pertumbuhan 7,52 persen; 16,01 persen; 5,30 persen; dan 7,55 persen. Adapun kontribusi ke perekonomian Kepri tercatat sebesar 3,14 persen untuk industri pengolahan, 1,57 persen untuk pertambangan dan penggalian, 1,03 persen untuk konstruksi, serta 0,62 persen untuk perdagangan.

Industri pengolahan tetap menjadi motor utama ekonomi Kepri, meski disebut sedikit melambat akibat kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat. Sementara itu, sektor pertambangan melonjak seiring mulai beroperasinya lapangan migas baru sejak Mei 2025.

Pertumbuhan sektor konstruksi disebut terjaga berkat pembangunan berkelanjutan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Kawasan Industri (KI). Di sisi lain, sektor perdagangan turut diuntungkan oleh momentum Hari Besar Keagamaan dan Nasional (HBKN).

Dari sisi keuangan, intermediasi perbankan di Kepri menunjukkan peningkatan aktivitas ekonomi. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 13,22 persen (yoy), sedangkan penyaluran kredit naik 25,92 persen (yoy). Pembiayaan korporasi tumbuh 37,00 persen, sementara pembiayaan UMKM meningkat 13,21 persen.

Berdasarkan sisi pengeluaran, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,81 persen (ctc) dengan andil 2,81 persen. Pertumbuhan ini dikaitkan dengan iklim investasi yang kondusif, sejalan dengan penerapan PP Nomor 25 dan 28 Tahun 2025.

Konsumsi rumah tangga naik 3,84 persen (ctc) dengan andil 1,51 persen. Kenaikan ini sejalan dengan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang berada pada level optimis 122,29.

Kinerja perdagangan luar negeri juga menguat. Net ekspor Kepri tumbuh 20,52 persen (ctc) dengan andil 2,93 persen, seiring tingginya permintaan global terhadap komoditas unggulan daerah.

Dalam pengembangan ekonomi digital, Bank Indonesia mendorong akselerasi transaksi nontunai berbasis Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Hingga Desember 2025, volume transaksi QRIS di Kepri mencapai 99,44 juta transaksi atau tumbuh 192,69 persen (yoy). Nilai transaksinya tercatat Rp11,54 triliun, naik 129,60 persen (yoy). Transaksi lintas negara (cross border) dengan Thailand, Malaysia, dan Singapura juga dilaporkan menunjukkan tren peningkatan.

Di tengah pertumbuhan ekonomi tersebut, inflasi Kepri tetap terkendali. Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat 3,47 persen (yoy), masih dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1 persen. Kenaikan harga terutama disumbang oleh emas perhiasan, cabai merah, angkutan udara, cabai rawit, dan daging ayam.

Ke depan, pengembangan KEK, KI, serta proyek strategis nasional disebut menjadi pendorong pertumbuhan berikutnya. Stabilitas inflasi akan dijaga melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dengan strategi 4K, yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.