Ketegangan di Timur Tengah akibat serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran dinilai telah bergeser dari isu politik menjadi risiko ekonomi global. Pengamat pasar modal sekaligus founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan situasi ini mendorong investor global mengambil sikap risk-off dengan beralih ke aset safe haven.
Menurut Hendra, pasar merespons cepat perkembangan konflik tersebut. Ia menyebut harga emas menguat lebih dari 1 persen, sementara minyak mentah WTI dan Brent naik hampir 3 persen. Kenaikan harga energi itu dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Salah satu fokus utama investor, kata Hendra, adalah Selat Hormuz yang disebut menjadi jalur sekitar 30 persen perdagangan minyak global. Ia menilai, apabila eskalasi konflik mengganggu arus kapal tanker di selat tersebut, harga minyak berpotensi melonjak lebih tinggi karena pasar akan menghitung ulang risiko pasokan.
“Dampaknya bisa menjalar ke inflasi global, nilai tukar, hingga kebijakan suku bunga di berbagai negara,” ujarnya dalam keterangan yang diterima Kabarbursa.com, Sabtu, 28 Maret 2026.
Untuk pasar modal Indonesia, Hendra menilai tekanan dapat datang dari dua arah. Pertama, potensi capital outflow seiring investor asing mengurangi eksposur di pasar negara berkembang. Kedua, risiko inflasi impor akibat lonjakan harga energi yang dapat meningkatkan biaya produksi dan menekan margin emiten bila harga minyak bertahan tinggi.
Dalam skenario tersebut, Hendra memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melemah dan menguji level support 8.133. Jika level itu ditembus, ia menyebut area psikologis 8.000 menjadi support berikutnya, sedangkan resistance terdekat berada di 8.300.
Meski begitu, ia menilai tidak semua sektor akan terdampak negatif. Sektor berbasis komoditas justru berpotensi menjadi penopang, seiring penguatan harga emas dan minyak.
Hendra menilai peluang dapat muncul pada saham MDKA dengan rekomendasi trading buy dan target 3.900, serta ANTM dengan rekomendasi buy dan target 4.500. Di sektor energi, ia memilih ELSA (trading buy, target 900), ENRG (trading buy, target 1.900), serta AKRA (speculative buy, target 1.400).
Selain itu, ia menyebut SOCI menarik dicermati sebagai trading buy dengan target 750, seiring meningkatnya aktivitas dan tarif pengangkutan energi di tengah volatilitas harga minyak.
Bagi investor ritel, Hendra menekankan pentingnya disiplin dan selektivitas. Investor berprofil agresif dinilai dapat memanfaatkan momentum sektor komoditas dengan manajemen risiko yang ketat. Sementara investor konservatif disebut dapat menerapkan strategi wait and see sambil memantau perkembangan konflik dan arus dana asing.
“Dalam situasi geopolitik yang panas, kunci bukan sekadar masuk atau keluar pasar, melainkan kemampuan membaca rotasi sektor dan menjaga risiko agar tetap terkendali,” pungkasnya.

