BERITA TERKINI
Pasar Domestik Variatif, Investor Cermati Geopolitik Timur Tengah dan Arah Tarif AS

Pasar Domestik Variatif, Investor Cermati Geopolitik Timur Tengah dan Arah Tarif AS

Pasar keuangan domestik sepanjang sepekan terakhir bergerak variatif. Rupiah mencatat penguatan bertahap, sementara pasar saham terkoreksi. Pelaku pasar juga mencermati dinamika global, terutama tensi geopolitik di Iran dan kawasan Timur Tengah serta arah kebijakan tarif Amerika Serikat.

Sejumlah data ekonomi turut menjadi perhatian. Bank Indonesia (BI) melaporkan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Januari 2026 tumbuh lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya. Sementara untuk pekan 2–6 Maret 2026, pasar menanti rilis inflasi IHK, neraca perdagangan, S&P Manufacturing PMI pada Senin, serta data cadangan devisa pada Jumat.

Di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau berada dalam fase koreksi. Setelah sempat mendekati level tertinggi dalam sekitar sebulan, indeks kemudian menurun secara fluktuatif, terutama tertekan oleh saham-saham kelompok energi dan perbankan besar. Berbeda dengan IHSG, bursa Asia pada umumnya cenderung menguat, dengan Nikkei memimpin penguatan seiring sentimen kebijakan perdana menteri yang dinilai pro-pertumbuhan. Secara mingguan, IHSG ditutup melemah 0,44% atau turun 36,282 poin ke level 8.235,485.

Untuk pekan 2–6 Maret 2026, IHSG diperkirakan bergerak konsolidatif dengan bias terkoreksi, dengan pelaku pasar mencermati arah sentimen bursa regional. Secara teknikal, IHSG disebut berada dalam rentang resistance 8.437 dan 8.596. Apabila tekanan jual muncul di area tersebut, level support dipantau di 7.861 dan berikutnya 7.712.

Di pasar valuta asing, rupiah terhadap dolar AS mengakhiri pekan dengan rebound. Rupiah sempat menguat ke level tertinggi sekitar sebulan sebelum penguatannya terpangkas pada hari terakhir perdagangan. Secara mingguan, rupiah menguat 105 poin atau 0,62% ke posisi Rp16.765 per dolar AS. Sementara itu, dolar secara global bergerak sideways di bawah level tertinggi sekitar dua pekan terakhir, dengan pergerakan antara lain dipengaruhi data inflasi PPI yang tercatat lebih tinggi dari perkiraan.

Untuk pekan mendatang, kurs USD/IDR diperkirakan stabil lalu cenderung turun, yang berarti rupiah berpeluang menguat bertahap. Pergerakan diperkirakan berada dalam rentang resistance Rp16.880 dan Rp16.928, serta support Rp16.705 dan Rp16.690.

Di pasar surat utang, harga obligasi rupiah Pemerintah Indonesia tenor 10 tahun naik terbatas, tercermin dari penurunan tipis yield yang berakhir di level 6,411% pada akhir pekan. Di sisi lain, yield US Treasury terpantau merosot setelah sempat mengalami rebound terbatas.

Dari sisi moneter, BI melaporkan M2 pada Januari 2026 tumbuh 10,0% secara tahunan (yoy), lebih tinggi dibanding Desember 2025 yang sebesar 9,6% (yoy), sehingga mencapai Rp10.117,8 triliun. Pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan uang beredar sempit (M1) sebesar 14,9% (yoy) serta uang kuasi sebesar 5,4% (yoy).

Ke depan, pasar diperkirakan masih diwarnai volatilitas seiring ketidakpastian arah pelonggaran kebijakan moneter bank sentral global, dinamika perdagangan internasional, serta memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah, terutama di Iran. Kondisi tersebut berpotensi memicu pergerakan harga yang bergejolak di berbagai instrumen investasi.