BERITA TERKINI
JPMorgan: Minat Spekulatif Investor Ritel Bergeser dari Kripto ke Saham

JPMorgan: Minat Spekulatif Investor Ritel Bergeser dari Kripto ke Saham

Investor ritel yang selama bertahun-tahun menjadi pendorong utama pasar kripto disebut mulai mengalihkan dana ke pasar saham. Pergeseran ini membuat mesin permintaan yang selama satu dekade menopang aset digital dinilai melemah.

Laporan terbaru dari market maker Wintermute, yang mengutip data JPMorgan Chase & Co., menyebut permintaan spekulatif yang sebelumnya terkonsentrasi di kripto kini tersedot ke ekuitas. Peralihan ini disebut terjadi bertahap sejak akhir 2024 dan meningkat tajam setelah kejatuhan kripto pada Oktober 2025.

Menurut laporan tersebut, dinamika ini berbeda dari siklus sebelumnya ketika saham dan aset digital cenderung bergerak searah sebagai instrumen berisiko tinggi. Perubahan arah arus dana ini dinilai menyentuh fondasi struktur pasar kripto, yang selama ini lebih bergantung pada dorongan spekulatif investor ritel dibandingkan saham yang didukung laba perusahaan, dividen, dan pembelian institusional.

Jika minat ritel kini menyebar ke berbagai instrumen saham berisiko tinggi, asumsi bahwa kripto dapat pulih tanpa katalis baru untuk menarik kembali investor ritel menjadi dipertanyakan. CEO Wintermute, Evgeny Gaevoy, mengatakan pada siklus sebelumnya selera risiko berlebih dari investor ritel cenderung terkonsentrasi di kripto. Kini, menurutnya, kripto menjadi salah satu dari banyak kelas aset berisiko dengan profil volatilitas serupa yang dapat digunakan ritel untuk berinvestasi dan berspekulasi.

Kejatuhan pasar pada Oktober 2025 disebut menjadi pemicu utama perubahan ini. Data Coinglass menunjukkan lebih dari US$19 miliar posisi terhapus, dengan US$7 miliar di antaranya lenyap dalam waktu kurang dari satu jam, serta melikuidasi lebih dari 1,6 juta trader. Sejak periode itu, Wintermute menilai terjadi “peralihan hampir total ke ekuitas” yang masih berlangsung.

Di tengah situasi tersebut, bitcoin dilaporkan telah merosot hampir setengah dari sekitar US$126.000 dan sempat diperdagangkan di kisaran US$66.000, seiring kabar serangan AS dan Israel ke Iran, sementara indeks saham justru bergerak naik.

Industri kripto pun mencari penjelasan atas memudarnya minat ritel, mulai dari pergeseran ke emas, pasar prediksi, hingga memecoin yang dinilai kehilangan daya tarik. Namun, Manajer Portofolio Pantera Capital, Cosmo Jiang, menilai daya tarik investor ritel kemungkinan meluas ke luar saham semata.

Data ETF bulanan menunjukkan arus dana meningkat ke aset tematik yang sedang naik daun seperti emas, perak, dan ETF bertema teknologi kuantum, sementara dana keluar terjadi pada ETF berbasis Bitcoin dan Ether. Dalam tiga bulan terakhir, hampir US$3 miliar ditarik dari ETF spot bitcoin, meski beberapa sesi terakhir mencatat arus masuk kembali.

Di sisi lain, dana saham dengan rekam jejak lebih panjang dan cakupan lebih luas disebut terus menyerap dana, demikian pula ETF bertema emas yang mengumpulkan lebih dari US$20 miliar pada periode yang sama.

Laporan Wintermute juga menyoroti faktor struktural lain, yakni volatilitas kripto yang disebut menyempit. Rasio volatilitas terealisasi bitcoin terhadap Nasdaq dilaporkan terus menurun dan sempat turun di bawah 2 kali lipat pada paruh pertama 2025.