Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tajam pada penutupan sesi I perdagangan Jumat, 23 Januari 2026. IHSG turun 115 poin atau 1,28% ke level 8.876, meski sentimen global cenderung kondusif seiring penguatan bursa Asia dan Wall Street.
Tekanan jual terlihat datang dari dalam negeri. Aktivitas perdagangan tercatat ramai, dengan volume mencapai 408,9 juta lot dan nilai transaksi Rp18,39 triliun. Kondisi ini menunjukkan pelemahan terjadi bukan karena likuiditas yang menipis, melainkan adanya aksi jual aktif saat pelaku pasar mengurangi eksposur pada perdagangan pagi.
Pergerakan saham unggulan terbelah. Sejumlah saham LQ45 masih bertahan di zona hijau, di antaranya AADI, ADMR, PGAS, ANTM, SMGR, TOWR, dan MDKA, yang membantu menahan laju koreksi indeks.
Namun tekanan dari kelompok saham berkapitalisasi besar lebih dominan. BRPT, AMMN, GOTO, MEDC, PGEO, UNVR, dan INKP tercatat menjadi pemberat utama, mengindikasikan aksi jual terkonsentrasi pada saham-saham berlikuiditas tinggi.
Dari sisi sektoral, mayoritas indeks sektor melemah. Sektor kesehatan menjadi satu-satunya yang bertahan di zona positif dengan kenaikan 0,69%. Sementara itu, sektor konsumer primer menjadi yang paling tertekan, turun 2,89% di tengah pelemahan sejumlah saham seperti IMAS, MAPI, GJTL, AMRT, AUTO, hingga UNTR.
Di saat IHSG terkoreksi, bursa Asia justru bergerak menguat. Sentimen regional didorong meredanya kekhawatiran geopolitik serta keputusan Bank of Japan (BOJ) yang mempertahankan suku bunga di level 0,75%. HSBC memperkirakan kenaikan suku bunga BOJ berikutnya baru akan terjadi pada Juli 2026, meski risiko percepatan dinilai tetap ada jika pelemahan yen berlanjut.
Penguatan di Asia juga mengikuti kinerja positif Wall Street. Dow Jones Industrial Average ditutup naik 0,63%, S&P 500 menguat 0,55%, dan Nasdaq Composite naik 0,91%, ditopang reli saham teknologi besar seperti Nvidia, Microsoft, dan Meta Platforms. Pemulihan ini terjadi setelah ketegangan Greenland mereda dan sentimen risk-on kembali menguat.
Di kawasan, Nikkei 225 dan Topix Jepang masing-masing naik lebih dari 0,5%. Kospi Korea Selatan menguat 0,71%, Taiex Taiwan naik 0,66%, dan Hang Seng Hong Kong bertambah 0,32%. Bursa China bergerak lebih selektif, dengan Shanghai Composite dan Shenzhen Component menguat tipis, sedangkan CSI300 turun 0,35%.
Pergerakan mata uang Asia turut memberi konteks. Rupiah menguat 0,36% ke level 16.836 per dolar AS, sementara ringgit Malaysia mencatat penguatan terbesar di kawasan dengan kenaikan 0,65%. Sebaliknya, yen Jepang melemah ke 158,61 per dolar AS.
Dengan bursa Asia dan Wall Street bergerak positif, pelemahan IHSG pada sesi I dinilai lebih dipengaruhi faktor domestik. Aksi jual pada saham-saham besar dan tekanan di sektor konsumer menjadi penekan utama, di tengah likuiditas yang tetap tinggi.

