Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan sepekan, 23–27 Februari 2026. Koreksi ini dinilai dipengaruhi sentimen global, termasuk meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG turun 0,44% ke level 8.235,48. Pada pekan sebelumnya, IHSG tercatat naik 0,7% ke posisi 8.271,76.
Sejalan dengan pelemahan indeks, kapitalisasi pasar juga menyusut 1,03% menjadi Rp 14.787 triliun dari Rp 14.941 triliun pada pekan sebelumnya.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksano, menyebut pelemahan IHSG disertai tekanan jual. Menurutnya, pergerakan IHSG juga belum mampu menembus moving average (MA) 20 harian.
Herditya memaparkan sejumlah faktor yang menekan pasar. Pertama, meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Kedua, ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat (AS). Ketiga, kombinasi dua faktor tersebut meningkatkan kekhawatiran investor dan mendorong kenaikan harga emas dunia. Keempat, adanya peringatan dari S&P terkait risiko fiskal Indonesia.
Dari sisi aktivitas perdagangan, rata-rata frekuensi transaksi harian turun 3,72% menjadi 2,95 juta kali transaksi, dari 3,06 juta kali transaksi pada pekan sebelumnya. Di tengah penurunan frekuensi, investor asing mencatatkan beli bersih saham sebesar Rp 4,90 triliun selama sepekan, meningkat dibanding pekan sebelumnya yang sebesar Rp 2,07 triliun.
Sementara itu, rata-rata nilai transaksi harian justru naik 25,35% menjadi Rp 29,52 triliun dari Rp 23,89 triliun pada pekan sebelumnya. Kenaikan juga terjadi pada rata-rata volume transaksi harian sebesar 8,55% menjadi 51,02 miliar saham dari 47 miliar saham.
Sebagai pembanding, pada pekan 16–20 Februari 2026 IHSG masih melanjutkan penguatan. Data BEI menunjukkan IHSG naik 0,72% ke posisi 8.271,76, setelah pada pekan sebelumnya melonjak 3,49% ke level 8.212,27.
Pada periode 16–20 Februari 2026, kapitalisasi pasar naik 0,35% menjadi Rp 14.941 triliun dari Rp 14.889 triliun. Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai pergerakan IHSG saat itu masih dibayangi sentimen global dan domestik, termasuk arah suku bunga The Federal Reserve, tensi geopolitik, pergerakan harga komoditas, serta isu reformasi pasar, free float, dan aliran dana asing. Ia menilai pasar berada dalam fase wait and see, dengan volatilitas yang masih tinggi meski fase panic selling disebut sudah lewat.
Pada pekan 16–20 Februari 2026, investor asing membukukan beli bersih Rp 2,07 triliun, berbalik dari pekan sebelumnya yang mencatat jual bersih Rp 5,47 triliun. Sepanjang 2026, investor asing tercatat membukukan nilai jual bersih sebesar Rp 14,42 triliun.

