BERITA TERKINI
Harga Perak COMEX Melonjak 4% ke Rekor Tertinggi, Sementara Minyak Terkoreksi di Tengah Kekhawatiran Kelebihan Pasokan

Harga Perak COMEX Melonjak 4% ke Rekor Tertinggi, Sementara Minyak Terkoreksi di Tengah Kekhawatiran Kelebihan Pasokan

Pasar komoditas menutup perdagangan terakhir dengan pergerakan kontras antara logam mulia dan energi. Harga perak di bursa COMEX berbalik menguat dan melonjak sekitar 4%, sementara harga minyak mentah melemah seiring kembali mencuatnya kekhawatiran kelebihan pasokan.

Pada penutupan perdagangan, kontrak berjangka perak acuan Maret naik lebih dari 4% ke kisaran US$96 per ons, mencetak level tertinggi sepanjang masa. Kenaikan ini terjadi di tengah kembalinya aliran dana ke aset yang tidak memberikan imbal hasil setelah sempat mengalami koreksi jangka pendek.

Menurut MXV, penguatan perak pada sesi tersebut terutama dipicu pembelian teknikal pascakoreksi, bersamaan dengan ekspektasi yang kian menguat mengenai siklus penurunan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada 2026. Proyeksi suku bunga yang lebih rendah dinilai meningkatkan daya tarik aset tanpa bunga seperti perak.

Berdasarkan alat penetapan harga suku bunga, pasar cenderung memperkirakan The Fed akan melakukan sekitar dua kali pemangkasan suku bunga pada paruh kedua 2026, masing-masing sebesar 0,25 poin persentase. Skenario ini dipandang memberi tekanan pada dolar AS dan mendukung komoditas yang dihargai dalam dolar.

Dalam sesi 22 Januari, Indeks Dolar sempat melemah, menciptakan kondisi yang mendukung penguatan perak. Namun, pergerakan intraday tetap fluktuatif karena imbal hasil obligasi AS dan dolar bergerak naik-turun, mencerminkan kehati-hatian investor di level harga yang tinggi.

Dari sisi geopolitik, informasi terkait hubungan AS dan NATO pada periode tersebut dinilai belum memunculkan guncangan baru yang cukup besar untuk mendorong permintaan aset safe-haven secara kuat. Bahkan, pada beberapa titik, tidak adanya eskalasi ketegangan lebih lanjut disebut sempat menekan permintaan aset defensif, mengindikasikan geopolitik bukan pendorong utama kenaikan perak kali ini.

Di ranah makro, data inflasi AS disebut tetap sesuai ekspektasi. Indeks PCE November 2025 tercatat naik 2,8% secara tahunan, dengan PCE inti juga bertahan di 2,8%. Data ini memperkuat pandangan bahwa The Fed masih memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan dalam jangka menengah, meski bukan informasi baru yang muncul pada sesi 22 Januari.

Untuk faktor fundamental, peningkatan produksi industri Tiongkok sebesar 5,2% secara tahunan pada Desember 2025 dinilai memperkuat prospek konsumsi perak jangka menengah dan panjang, terutama untuk sektor elektronik dan energi terbarukan. Namun, faktor ini disebut lebih bersifat pendukung fundamental ketimbang pemicu langsung lonjakan tajam dalam satu sesi.

Di dalam negeri, harga perak disebut masih sangat dipengaruhi pergerakan global karena pasokan bergantung pada impor, meski dengan jeda waktu tertentu.

Sementara itu, komoditas energi bergerak melemah. Pada penutupan perdagangan, harga minyak mentah Brent turun 1,8% menjadi US$64,06 per barel. Adapun minyak mentah WTI merosot lebih dari 2,1% ke US$59,36 per barel, yang disebut sebagai level terendah dalam satu minggu.

MXV menilai pasar minyak kembali dibayangi kekhawatiran kelebihan pasokan. Pada saat yang sama, persediaan bensin dilaporkan meningkat 5,977 juta barel, jauh di atas perkiraan 1,7 juta barel, yang mengindikasikan permintaan bahan bakar lebih lemah dari perkiraan, termasuk pada musim dingin.

Selain faktor pasokan, premi risiko geopolitik di pasar minyak disebut terus menyusut, terutama setelah perkembangan terkait Greenland. Pesan Gedung Putih mengenai pembatasan intervensi militer terhadap Iran juga dinilai meredakan kekhawatiran gangguan pasokan dari salah satu negara utama OPEC tersebut. Dengan meredanya dua isu geopolitik ini, pasar dinilai kekurangan pendorong untuk mempertahankan harga tinggi, terlebih ketika ada sinyal peningkatan persediaan.

Meski sebagian pihak menilai kekhawatiran kelebihan pasokan berlebihan dan persediaan global masih di bawah rata-rata lima tahun, pasar minyak tetap berada di bawah tekanan penurunan dalam jangka pendek. Data persediaan yang dinilai suram dari Badan Informasi Energi AS (EIA) disebut menutupi proyeksi jangka panjang yang lebih optimistis dan membebani sentimen investor.