Pasar saham Asia-Pasifik diperkirakan melemah pada perdagangan Senin (2/3/2026) menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Peristiwa tersebut menandai eskalasi tajam ketegangan di Timur Tengah dan memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap dampaknya pada stabilitas kawasan dan pergerakan aset global.
Presiden AS Donald Trump menyatakan pada Minggu bahwa operasi tempur di Iran akan berlanjut setelah tiga personel militer AS dilaporkan tewas.
Di pasar komoditas, kontrak berjangka minyak melonjak lebih dari 8% pada Senin. West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di level US$72,52 per barel, sementara Brent berada di US$79,04 per barel.
Untuk pasar Jepang, kontrak berjangka Nikkei 225 mengindikasikan penurunan sekitar 1,5%. Kontrak di Chicago tercatat di 57.835, dibandingkan penutupan sebelumnya di 58.850,27, sedangkan kontrak di Osaka berada di 57.780.
Di Australia, indeks S&P/ASX 200 turun 0,55% pada awal perdagangan. Sementara itu, kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di 26.465, lebih rendah dari penutupan sebelumnya di 26.630,54.
Pasar Korea Selatan tidak beroperasi karena libur nasional.
Sentimen negatif juga terlihat pada perdagangan kontrak berjangka saham AS pada Minggu malam. Kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average turun 517 poin atau sekitar 1%, diikuti kontrak berjangka S&P 500 yang melemah 1% dan Nasdaq 100 yang turun sedikit lebih dari 1%.
Di sisi lain, kontrak berjangka emas naik 2% seiring investor beralih ke aset safe haven di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

