Pasar saham Asia dibuka melemah pada awal perdagangan, seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mengguncang sentimen investor global. Kontrak berjangka indeks saham Amerika Serikat juga bergerak turun, sementara harga minyak mentah melonjak dan emas menguat karena meningkatnya permintaan terhadap aset yang dianggap lebih aman.
Kontrak berjangka untuk Indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing turun hampir 1% saat perdagangan dimulai di Asia. Di Australia, saham juga dibuka lebih rendah karena pelaku pasar mengurangi eksposur pada aset berisiko.
Di pasar komoditas, minyak mentah melonjak hingga 13% di tengah eskalasi konflik yang disebut telah menimbulkan kekacauan pada pasar minyak global, termasuk penutupan efektif Selat Hormuz. Sementara itu, emas naik hingga 1,6% seiring meningkatnya minat terhadap aset safe-haven.
Pergerakan juga terlihat di pasar valuta asing. Dolar AS menguat, sedangkan franc Swiss sedikit naik terhadap mata uang utama lainnya pada awal perdagangan. Dolar Australia memimpin pelemahan di antara mata uang yang sensitif terhadap risiko.
Di pasar obligasi, obligasi pemerintah Australia dan Selandia Baru menguat saat pasar masing-masing dibuka.
Selain faktor geopolitik, pasar saham juga disebut tengah dibayangi kekhawatiran baru terkait kecerdasan buatan dan potensi keretakan kredit, di tengah kondisi valuasi yang dinilai sangat tinggi. Dengan meningkatnya aksi militer di Iran dan kawasan sekitarnya, investor kini menghadapi risiko tambahan yang berpotensi mengganggu stabilitas pengiriman global dan membatasi perjalanan.

