Bank Sentral Jepang (BOJ) memutuskan mempertahankan suku bunga kebijakan di level 0,75% dalam pertemuan pada 23 Januari. Level tersebut menjadi yang tertinggi dalam 30 tahun terakhir, setelah kenaikan suku bunga terakhir pada Desember 2025.
Dalam pertemuan kebijakan moneter pertamanya pada 2026, BOJ sekaligus merevisi naik perkiraan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). Untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2026, proyeksi pertumbuhan dinaikkan menjadi 0,9% dari sebelumnya 0,7% pada Oktober 2025. Sementara itu, perkiraan pertumbuhan PDB untuk tahun fiskal 2026 direvisi menjadi 1% dari 0,7%.
BOJ menyatakan ekonomi Jepang menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang lambat meski menghadapi guncangan tarif yang mulai muncul sejak 2025. Para pembuat kebijakan juga mencermati terbentuknya spiral upah-harga yang didorong langkah stimulus ekonomi serta pelonggaran fiskal pemerintah.
Keputusan mempertahankan suku bunga disetujui oleh delapan anggota, dengan satu suara menentang. Hajime Takata menjadi satu-satunya anggota yang berbeda pendapat dan mengusulkan kenaikan suku bunga menjadi 1% karena menilai risiko inflasi tetap tinggi.
Pasca pengumuman, yen sempat menguat tipis dan diperdagangkan di sekitar 158 yen per dolar AS, setelah sebelumnya melemah ke kisaran 159–160 yen per dolar AS. Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang dilaporkan mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade. Sejumlah analis menilai investor menjual obligasi secara agresif karena suku bunga riil yang tetap negatif dan meningkatnya kekhawatiran terhadap besarnya utang publik Jepang.
Dari sisi inflasi, indeks harga konsumen (CPI) Jepang naik 2,1% pada Desember 2025, menandai bulan ke-45 berturut-turut inflasi berada di atas target 2% BOJ. Meski demikian, bank sentral memperkirakan laju kenaikan harga akan mulai turun di bawah target pada semester pertama tahun ini.
Keputusan BOJ juga berlangsung di tengah tekanan politik menjelang pemilihan umum sela pada 8 Februari. Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang mendukung kebijakan moneter dan fiskal longgar, merencanakan anggaran tambahan sebesar 783 miliar dolar AS untuk tahun fiskal 2026 guna membantu rumah tangga menghadapi kenaikan biaya hidup.
Sementara itu, Menteri Keuangan Satsuki Katayama menyatakan kementeriannya memantau perkembangan pasar valuta asing dengan sangat waspada. Peringatan berulang terkait depresiasi yen dinilai mencerminkan kesiapan Tokyo untuk melakukan intervensi langsung bila pergerakan nilai tukar dinilai berfluktuasi secara berlebihan.

