Lembaga pemeringkat Moody’s Ratings menurunkan outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, namun tetap mempertahankan sovereign credit rating Republik Indonesia pada level Baa2. Sejumlah analis menilai perubahan outlook ini berpotensi memicu dampak psikologis di pasar, terutama dalam jangka pendek, tanpa serta-merta mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi.
Pengamat pasar modal Reydi Octa mengatakan penurunan outlook lebih merupakan penyesuaian terhadap ekspektasi ekonomi makro ke depan dibandingkan sinyal penurunan fundamental yang mendasar. Menurutnya, selama peringkat Indonesia tetap berada pada kategori investment grade, risiko yang ditangkap investor cenderung bersifat sementara dan dipengaruhi sentimen.
Ia menilai reaksi pasar kerap didorong persepsi, mengingat investor global biasanya merespons cepat setiap perubahan pandangan dari lembaga pemeringkat. Namun, dalam banyak kasus, dampak awal tersebut dapat mereda ketika pelaku pasar kembali menilai kondisi fundamental secara lebih rasional.
Reydi juga menyoroti sektor yang dinilai lebih sensitif terhadap sentimen penurunan outlook, khususnya perbankan. Menurutnya, outlook negatif dapat memengaruhi persepsi risiko yang berkaitan dengan biaya pendanaan dan akses likuiditas, sehingga saham perbankan berpotensi lebih terpengaruh dibanding sektor lain.
Selain itu, emiten dengan eksposur utang dalam mata uang asing disebut rentan menghadapi tekanan apabila perubahan persepsi risiko global memicu pelemahan nilai tukar, yang kemudian meningkatkan beban pembayaran utang. Sementara itu, emiten dengan fundamental kuat dinilai relatif lebih tahan terhadap gejolak sentimen.
Di sisi lain, Reydi melihat peluang terjadinya reaksi berlebihan (overreact) di pasar dalam jangka pendek. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat dimanfaatkan investor berorientasi jangka panjang untuk melakukan akumulasi pada saham berkapitalisasi besar dan defensif yang valuasinya terdiskon, selama tidak muncul sentimen negatif lanjutan.
Moody’s pada 5 Februari 2026 menyatakan afirmasi rating Baa2 mencerminkan ketahanan ekonomi Indonesia yang dinilai tetap kuat, ditopang pertumbuhan yang stabil serta kekuatan struktural seperti sumber daya alam dan demografi yang mendukung prospek pertumbuhan jangka menengah. Moody’s juga menilai kredibilitas kebijakan moneter dan kehati-hatian fiskal turut berkontribusi terhadap stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
Namun, revisi outlook menjadi negatif dipengaruhi pandangan Moody’s mengenai risiko penurunan kepastian kebijakan yang dapat berdampak pada kinerja perekonomian apabila berlanjut.
Menanggapi keputusan tersebut, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan penyesuaian outlook tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian. Ia menyampaikan bahwa di tengah gejolak dan ketidakpastian global, kinerja ekonomi domestik dinilai tetap solid. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2025 tercatat 5,39%, sehingga secara keseluruhan tahun 2025 tumbuh 5,1%.
Perry juga menyebut inflasi tetap terkendali pada 2,92% sesuai target. Bank Indonesia, kata dia, terus memperkuat nilai tukar rupiah melalui komitmen kebijakan, sementara stabilitas sistem keuangan tetap terjaga dengan dukungan likuiditas memadai, permodalan perbankan yang tinggi, serta risiko kredit yang rendah. Ia menambahkan digitalisasi sistem pembayaran berlangsung dengan dukungan infrastruktur yang stabil dan struktur industri yang sehat.
Dalam perkiraannya, Moody’s menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di sekitar 5% dalam jangka pendek hingga menengah. Lembaga pemeringkat itu juga memperkirakan defisit fiskal tetap di bawah 3% dari PDB, kebijakan moneter terus mendukung stabilitas inflasi, serta rasio utang pemerintah terhadap PDB tetap rendah dibanding negara sejenis. Meski demikian, Moody’s mencatat tantangan peningkatan basis penerimaan masih menjadi pekerjaan penting untuk mendorong pertumbuhan sambil menjaga stabilitas makro dan keuangan.
Moody’s turut mengapresiasi upaya pemerintah meningkatkan penerimaan, termasuk melalui efisiensi administrasi perpajakan dan kepabeanan. Sementara itu, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 meningkat pada kisaran 4,9–5,7% ditopang kenaikan permintaan domestik sejalan dengan kebijakan pemerintah dan dampak bauran kebijakan BI. Untuk 2027, BI memproyeksikan pertumbuhan berada di kisaran 5,1–5,9% dengan inflasi yang tetap terkendali.
Bank Indonesia juga menyoroti kondisi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang dinilai sehat, didukung kinerja perdagangan. Pada Desember 2025, neraca perdagangan mencatat surplus USD 2,51 miliar yang didorong ekspor nonmigas dari sumber daya alam dan manufaktur. Posisi cadangan devisa akhir Desember 2025 meningkat menjadi USD 156,5 miliar, setara pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,3 bulan pembayaran utang luar negeri pemerintah, di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Untuk 2026, BI memperkirakan NPI tetap baik dengan defisit transaksi berjalan yang rendah, berkisar 0,9% hingga 0,1% dari PDB. Nilai tukar rupiah diproyeksikan stabil dengan kecenderungan menguat, ditopang imbal hasil menarik dan inflasi rendah. Perry menegaskan BI akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendorong pertumbuhan berkelanjutan di tengah ketidakpastian global, bersinergi dengan KSSK dan pemerintah, termasuk memperkuat komunikasi kebijakan guna memelihara kepercayaan pasar.

