Industri fintech Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan yang semakin solid sepanjang 2024–2025. Temuan Annual Members Survey (AMS) 2024–2025 dari Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) menilai sektor ini memasuki fase kematangan, yang ditandai oleh penguatan tata kelola, keamanan digital, ekspansi pasar, serta fondasi bisnis yang semakin kokoh.
Ketua Umum AFTECH, Pandu Sjahrir, mengatakan perkembangan tersebut mencerminkan transformasi positif yang berada pada jalur berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya memastikan inovasi berjalan seiring tata kelola yang kuat, perlindungan konsumen, serta dampak nyata bagi sektor riil dan masyarakat.
Salah satu indikator penguatan industri terlihat dari ekspansi layanan fintech yang menjangkau lebih banyak segmen pengguna dan wilayah. Meski pengguna masih banyak terkonsentrasi di Jabodetabek, tren perluasan ke luar kawasan metropolitan disebut mulai menguat seiring bertambahnya layanan digital dan munculnya model bisnis baru.
Pertumbuhan juga tampak pada segmen business-to-business (B2B). Proporsi perusahaan fintech dengan basis pengguna utama B2B meningkat dari 27,48% pada 2024 menjadi 50% pada 2025. Kenaikan ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan sektor korporasi terhadap fintech sebagai mitra strategis dalam transformasi digital. AMS juga mencatat adanya tren positif pada ekspansi global.
Di sisi tata kelola dan keamanan, AMS mencatat peningkatan kepatuhan terhadap Kode Etik AFTECH menjadi 73,77% pada 2025. Sementara itu, 88,04% perusahaan fintech telah menerapkan standar internasional ISO/IEC 27001, yang mencerminkan komitmen terhadap keamanan informasi.
Meski ancaman fraud eksternal masih menjadi perhatian, survei mencatat penurunan kasus phishing serta peningkatan kapasitas internal perusahaan dalam mitigasi risiko digital.
Dari sisi bisnis, AMS 2024–2025 menunjukkan optimisme pelaku industri terhadap prospek ke depan. Fokus perusahaan dinilai bergeser ke profitabilitas dan efisiensi, bukan semata ekspansi agresif. Hal ini tercermin dari 43,4% perusahaan fintech yang memilih tidak aktif mencari pendanaan eksternal pada 2025, naik dari 38,9% pada 2024, yang dipandang sebagai sinyal semakin banyak perusahaan mencapai stabilitas operasional.
Survei juga mencatat 57,38% perusahaan berencana menambah karyawan. Di saat yang sama, jumlah perusahaan yang melakukan perampingan turun menjadi 16,33%, mengindikasikan sektor fintech mulai meninggalkan fase penghematan dan kembali bergerak pada jalur ekspansi.
Dalam aspek regulasi, 94,26% responden menilai kerangka regulasi pemerintah semakin mendukung inovasi, terutama terkait investasi digital dan perluasan inklusi keuangan.
Di bidang inovasi dan teknologi, AMS menyoroti bahwa industri masih menghadapi tantangan kesenjangan talenta, khususnya pada AI dan Big Data. Namun, investasi pada teknologi inti tetap menjadi pendorong utama, dengan perusahaan mengembangkan solusi yang lebih canggih, aman, dan adaptif untuk konsumen ritel maupun korporasi.
Edukasi dan literasi keuangan digital juga menjadi prioritas, dengan 43,44% perusahaan menempatkannya sebagai program perlindungan konsumen yang strategis.
Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto, menyampaikan hasil AMS akan menjadi pijakan untuk memperkuat ekosistem. Fokus ke depan, menurutnya, mencakup penguatan governance untuk meningkatkan kepercayaan, standardisasi keamanan, kolaborasi dengan sektor riil, perluasan literasi keuangan digital, serta dorongan yang lebih besar terhadap inklusi keuangan. Ia menilai kolaborasi lintas sektor akan menjadi kunci.
Peluncuran AMS 2024–2025 menegaskan bahwa industri fintech tidak hanya tumbuh, tetapi juga semakin matang dan adaptif. Dengan dukungan regulator, komitmen pelaku industri, serta edukasi publik yang semakin luas, fintech diharapkan menjadi bagian penting dari penguatan ekonomi digital Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan.

