Dalam beberapa bulan terakhir, pasar deposito mencatat gelombang kenaikan suku bunga di sejumlah bank komersial, terutama bank di luar kelompok perbankan saham gabungan milik negara. Kenaikan ini dilakukan untuk menarik dana di tengah meningkatnya tekanan likuiditas dan persaingan penghimpunan modal. Dampaknya, suku bunga pinjaman—termasuk kredit konsumsi untuk pembelian dan pembangunan rumah—ikut terdorong naik.
Pada 2024 hingga awal 2025, banyak bank sempat menawarkan paket kredit preferensial dengan suku bunga rendah sekitar 5,2–5,5% per tahun, tetap selama 2–3 tahun. Namun, program semacam ini kini sebagian besar telah dihentikan. Paket pinjaman preferensial untuk kelompok usia di bawah 35 tahun di sejumlah bank seperti BIDV, Vietcombank, dan SHB juga disebut berakhir pada akhir 2025.
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa sejak akhir November 2025, banyak bank menyesuaikan suku bunga pinjaman rumah secara bersamaan. Secara umum, tingkat suku bunga meningkat sekitar 1–2% per tahun dibandingkan awal 2025. Saat ini, suku bunga preferensial untuk KPR pada 1–3 tahun pertama di banyak bank umumnya berada di kisaran 7–9% per tahun, sebelum beralih menjadi suku bunga mengambang setelah masa preferensi selesai.
Seorang petugas kredit di bank komersial milik negara di Ha Tinh, Le Thi Tr., menyebut suku bunga pinjaman jangka menengah dan panjang untuk membeli atau membangun rumah telah naik menjadi 8,4% per tahun, atau meningkat sekitar 1,5% hanya dalam tiga bulan. Untuk pinjaman jangka pendek, suku bunganya disebut bahkan lebih tinggi. Kondisi ini membuat banyak nasabah menimbang ulang keputusan sebelum menandatangani perjanjian pinjaman.
Di kelompok bank komersial perseroan terbatas non-milik negara, suku bunga pinjaman pembelian rumah dan konstruksi dilaporkan lebih tinggi lagi, sekitar 1–3% per tahun dibandingkan bank milik negara.
Nguyen Van Huan, petugas kredit di sebuah bank swasta di Ha Tinh, mengatakan sejak akhir Desember 2025 hingga saat ini, suku bunga pinjaman untuk pembelian dan pembangunan rumah meningkat hingga 2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ia merinci, suku bunga pinjaman jangka pendek 3–6 bulan untuk tujuan tersebut berada di sekitar 8,1% per tahun. Sementara itu, untuk pinjaman jangka menengah dan panjang, suku bunga ditetapkan 8,8% per tahun untuk tahun pertama, dan bisa mencapai 9,5% per tahun untuk dua tahun pertama, sebelum disesuaikan mengikuti pasar. Menurutnya, ketika suku bunga meningkat, permintaan pinjaman untuk membeli dan membangun rumah cenderung melambat, dan sebagian calon peminjam memilih menunda rencana.
Kenaikan biaya pinjaman dirasakan langsung oleh sejumlah keluarga. Tran Van Sinh, warga komune Can Loc, menuturkan keluarganya meminjam hampir 1 miliar VND pada awal 2025 untuk membeli rumah dengan suku bunga lebih dari 7% per tahun. Setelah masa preferensi berakhir, suku bunga naik menjadi lebih dari 9% per tahun. Ia mengatakan cicilan bulanan meningkat sementara pendapatan keluarga tidak bertambah, sehingga ia dan istrinya mempertimbangkan meminjam dari kerabat untuk melunasi sebagian utang bank guna mengurangi beban bunga.
Di sisi lain, keluarga yang belum mengambil pinjaman juga mulai menahan diri. Le Thi Nhung, warga Kelurahan Thanh Sen, menyampaikan anaknya yang baru menikah semula berencana meminjam untuk membangun rumah pada awal tahun ini. Namun, karena suku bunga tinggi, keluarga sepakat menunda rencana tersebut. Ia menilai meminjam pada kondisi saat ini membawa risiko dan tekanan pembayaran yang berkepanjangan, sementara situasi ekonomi masih tidak stabil.
Sejumlah ahli keuangan mengingatkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, bank agresif menarik peminjam KPR dan kredit konstruksi lewat paket suku bunga tetap 1–3 tahun pertama. Pada fase ini, cicilan bulanan biasanya lebih ringan. Namun setelah periode preferensi berakhir, suku bunga mengambang kerap berada di atas 10% per tahun, atau lebih tinggi jika pasar berfluktuasi. Kondisi tersebut menjadi titik risiko, terutama bagi rumah tangga yang meminjam terlalu besar—misalnya hingga 70–80% dari nilai rumah—karena lonjakan bunga dapat membuat cicilan melampaui kemampuan bayar, memaksa peminjam mencari jalan keluar seperti menjual aset atau merestrukturisasi utang.
Berdasarkan perkembangan tersebut, para ahli menyarankan masyarakat lebih berhati-hati saat mengambil pinjaman untuk membeli atau membangun rumah di tengah tren suku bunga naik. Peminjam disarankan mengambil pinjaman dalam jumlah wajar, idealnya tidak lebih dari 50% nilai rumah meskipun bank dapat menawarkan hingga 80%. Selain itu, total pembayaran bulanan dianjurkan tidak melebihi 40–50% dari pendapatan agar kondisi keuangan tetap aman. Menyusun rencana keuangan untuk mengantisipasi fluktuasi suku bunga juga dinilai penting untuk menghindari jebakan kenaikan bunga.

