Jakarta — Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) kompak melemah tajam pada perdagangan Kamis (22/1/2026), masing-masing nyaris 10%. Pelemahan ini terjadi di tengah perhatian pasar terhadap agenda indeks MSCI serta wacana pengetatan aturan free float yang dinilai dapat memengaruhi kelayakan saham untuk masuk dalam indeks global tersebut.
Pada perdagangan kemarin, BUMI turun 9,8% ke level 348. Saham ini juga tercatat paling banyak ditransaksikan dan mengalami net sell Rp 1,01 triliun. Mengacu data Refinitiv, BUMI menjadi pemberat utama indeks pada hari itu dengan bobot 9,86 indeks poin.
DEWA juga melemah 9,5% ke level 665, dengan net sell Rp 266,1 miliar. Penurunan DEWA turut menekan IHSG dengan bobot 4,4 indeks poin.
Meski terkoreksi, kedua saham tersebut masih disebut berpeluang menjadi kandidat masuk MSCI pada edisi Februari 2026. BUMI sejauh ini telah masuk kategori small cap, sementara DEWA disebut-sebut berpotensi masuk kategori small cap terlebih dahulu.
Namun, mendekati pengumuman, ketidakpastian meningkat. MSCI disebut akan menerapkan aturan free float yang lebih ketat dan saat ini masih berada dalam periode menerima masukan dari pelaku pasar hingga akhir bulan ini. Pada 30 Januari 2026, MSCI dijadwalkan mengumumkan aturan baru yang akan mulai diberlakukan pada rebalancing Mei 2026. Kondisi ini dipandang menjadi faktor yang menahan minat beli karena berpotensi berdampak pada kelayakan saham terhadap kriteria indeks global.
Penurunan harga BUMI dan DEWA juga beriringan dengan aksi jual pemegang saham besar (di atas 5%), yang kerap dibaca sebagai sentimen negatif oleh pasar.
Untuk BUMI, salah satu pemegang saham besar, Chengdong Investment Corporation, tercatat melakukan penjualan saham secara bertahap sepanjang Desember 2025. Total lebih dari 3,7 miliar saham dilepas, sehingga kepemilikannya turun dari sekitar 6,99% menjadi sekitar 5,99%.
Sementara pada DEWA, pemegang saham utama seperti PT Andhesti Tungkas Pratama dikabarkan juga mengurangi porsi kepemilikan, meskipun dalam proporsi yang lebih kecil dibanding BUMI.
Di sisi lain, aksi jual tersebut juga dapat dimaknai sebagai strategi untuk meningkatkan free float jelang keputusan MSCI, terutama ketika aturan free float menjadi sorotan dan porsi saham yang diperdagangkan publik menjadi tolok ukur penting. Dengan meningkatnya jumlah saham yang beredar di pasar, emiten berpeluang lebih memenuhi syarat investability di mata manajer indeks internasional.
Di tengah tekanan harga menjelang agenda MSCI, BUMI dan DEWA masih memiliki sejumlah agenda transformasi bisnis yang menjadi perhatian investor.
Strategi BUMI: perluasan portofolio di luar batubara
BUMI tengah menjalankan strategi jangka menengah untuk mengurangi ketergantungan pada batubara dengan memperluas portofolio ke energi baru terbarukan (EBT), mineral, dan logam. Langkah ini disebut sebagai upaya reposisi agar lebih selaras dengan arah transisi energi global dan preferensi investor institusional.
Salah satu langkah yang telah direalisasikan adalah akuisisi 100% saham Wolfram Limited di Australia yang rampung pada November 2025. Melalui aksi ini, BUMI memperoleh eksposur ke tambang emas dan tembaga.
BUMI juga memperkuat pijakan di sektor mineral melalui akuisisi 45% saham PT Laman Mining, perusahaan tambang bauksit. Investasi tersebut membuka peluang keterlibatan lebih jauh dalam rantai pasok aluminium.
Dari sisi internal, BUMI masih berada dalam fase restrukturisasi dan reorganisasi korporasi untuk memperbaiki struktur keuangan, efisiensi operasional, serta fleksibilitas pendanaan. Reorganisasi ini disebut menjadi fondasi bagi agenda ekspansi dan akuisisi berikutnya, termasuk pemanfaatan pendanaan dari pasar obligasi.
Sepanjang 2025, BUMI telah menerbitkan tiga tahap obligasi dan tahap IV disebut sedang bergulir pada Januari 2026. Penerbitan ini merupakan bagian dari Obligasi Berkelanjutan I BUMI dengan target dana keseluruhan Rp5 triliun. Rinciannya: tahap I senilai Rp350 miliar (Juli 2025), tahap II Rp721,61 miliar (September 2025), dan tahap III Rp780 miliar (Desember 2025) dengan bunga tetap 9% per tahun dan tenor 5 tahun. Total nominal dari tiga tahap tersebut sekitar Rp1,85 triliun, menyisakan plafon sekitar Rp3,15 triliun yang berpotensi diterbitkan ke depan, termasuk kemungkinan tahap IV pada Januari 2026 dengan target Rp345 miliar.
DEWA: penguatan pendanaan dan kontrak jangka panjang
DEWA memperkuat struktur keuangannya melalui fasilitas kredit dari bank besar. Perusahaan menandatangani fasilitas kredit modal kerja dan investasi sekitar Rp1 triliun dari PT Bank Central Asia Tbk (BCA) pada akhir Desember 2025. Fasilitas tersebut ditujukan untuk pembelian alat berat baru, peningkatan kapasitas armada, serta mendorong kenaikan volume pekerjaan di proyek-proyek utama.
Pendanaan ini menjadi penting karena DEWA baru-baru ini mengamankan kontrak jasa pertambangan bernilai sekitar Rp10,5 triliun dengan PT Arutmin Indonesia. Kontrak tersebut bersifat life of mine, yakni berlaku hingga masa operasional tambang selesai, sehingga memberikan visibilitas arus kas jangka panjang.
DEWA juga menjalankan program buyback saham sebagai bentuk komitmen manajemen dalam menjaga nilai pemegang saham di tengah volatilitas pasar.
Adapun tantangan DEWA saat ini disebut lebih berfokus pada restrukturisasi internal, terutama terkait penghapusan aset tidak produktif dan akumulasi kerugian dari tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini membuat DEWA terlambat melaporkan kinerja keuangan kuartal III/2025 dan mendapatkan notasi L dari Bursa Efek Indonesia (BEI).

