Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan kenaikan porsi saham free float menjadi 15 persen, dari ketentuan sebelumnya 7,5 persen. Perusahaan tercatat ditargetkan memenuhi ketentuan tersebut pada Maret 2026.
Direktur Penilaian BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan bursa akan memberikan waktu bagi emiten untuk menyesuaikan diri. Menurutnya, penyesuaian itu mengacu pada rancangan waktu 2–3 tahun yang masih akan difinalkan bersama para pemangku kepentingan.
“Tentu kita berikan waktu. Kita berikan waktu sesuai dengan di draft 2-3 tahun nih waktunya. Tentu nanti kita finalkan mau berapa tahun stakeholder dan nanti kita finalkan di bulan Februari kita tentukan,” ujar Nyoman kepada media di Jakarta, 9 Februari 2026.
BEI juga menyiapkan skema pelonggaran melalui kenaikan free float secara bertahap. Nyoman menyebut, target pada tahun pertama dapat ditetapkan di kisaran 10 persen atau 12,5 persen, sebelum mencapai 15 persen pada akhir periode yang ditentukan.
“Penentuan target, let’s say tahun pertama mesti 10 persen atau 12,5 persen itu akan kami tentukan. Tujuannya apa? Tujuannya secara bertahap, mereka dapat memenuhi hingga menunggu. Sampai periode tahun itu berakhir,” imbuhnya.
Dalam kebijakan ini, BEI memprioritaskan pemenuhan ketentuan free float 15 persen pada 49 perusahaan yang mencakup 90 persen kapitalisasi pasar.
Sementara itu, berdasarkan pantauan melalui Stockbit Sekuritas, terdapat sejumlah emiten berkapitalisasi besar (big caps) yang saat ini masih memiliki porsi free float di bawah 15 persen. Berikut daftarnya:
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN): 12,30 persen
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA): 10,66 persen
PT Bank Permata Tbk (BNLI): 9,97 persen
PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA): 9,97 persen
PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET): 9,11 persen
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS): 9,25 persen
PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO): 14,78 persen
PT H.M. Sampoerna Tbk (HMSP): 7,50 persen
PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR): 14,05 persen
PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL): 10,44 persen
PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR): 11,97 persen
PT Multipolar Technology Tbk (MLPT): 9,63 persen
PT Mayora Indah Tbk (MYOR): 14,55 persen
PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN): 7,62 persen
PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR): 0,09 persen
PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA): 7,51 persen
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO): 10,90 persen

