Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) terpantau lesu sepanjang Kamis (26/3/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah dan ditutup melemah 1,89% atau turun 138 poin ke level 7.164.
Sepanjang sesi, sebanyak 380 saham tercatat turun, 292 saham naik, dan 148 saham stagnan. Dari sisi sektoral, sektor transportasi menjadi penguat terbesar dengan kenaikan 2,62%, sementara sektor energi mencatat penurunan terdalam sebesar 2,91%.
Tim Analis Phintraco Sekuritas menilai pelemahan IHSG antara lain dipicu aksi ambil untung (profit taking) yang dilakukan investor seiring meningkatnya ketidakpastian terkait negosiasi gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. “Pelemahan IHSG antara lain disebabkan oleh profit taking atau aksi ambil untung para investor. Mereka melakukan aksi ambil untung karena ketidakpastian negosiasi untuk gencatan senjata antara AS dan Iran,” ujar Tim Analis Phintraco.
Dari aktivitas investor asing, tercatat jual bersih (net sell) senilai Rp1,92 triliun. Saham yang paling banyak dilepas asing antara lain BBCA, BBRI, BBNI, GOTO, dan ANTM.
Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga bergerak melemah. Sejumlah saham yang disebut mendominasi pelemahan di antaranya DEFI, ROCK, INDS, ICON, dan ARTA.
BEI mencatat volume transaksi mencapai 31,14 miliar lembar saham dengan frekuensi 1,73 juta kali transaksi. Total nilai perdagangan tercatat Rp32,34 triliun, sementara kapitalisasi pasar menjadi Rp12.620,99 triliun.
Di kawasan Asia, kinerja bursa ditutup beragam. Menurut Tim Phintraco, pasar masih kesulitan memahami pernyataan yang dinilai kontradiktif dari AS dan Iran dalam 48 jam terakhir. AS menyebut perundingan telah berlangsung, sementara Iran membantah adanya interaksi langsung dan menyatakan tidak berniat bernegosiasi dengan AS. Iran juga menegaskan pertukaran proposal melalui mediator tidak serta-merta berarti negosiasi. Ketidakpastian yang meningkat ini dinilai membuat pelaku pasar cenderung lebih berhati-hati.