BERITA TERKINI
BI: Arus Modal ke Negara Maju Meningkat, Emerging Market Tertekan; Harga Komoditas Ikut Terdampak

BI: Arus Modal ke Negara Maju Meningkat, Emerging Market Tertekan; Harga Komoditas Ikut Terdampak

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan arus modal global cenderung mengalir ke negara maju, termasuk Amerika Serikat, seiring menguatnya indeks dolar AS (DXY). Kondisi tersebut membuat aliran dana ke pasar negara berkembang (emerging market) berkurang, tidak hanya ke Indonesia.

Destry menyatakan Indonesia turut merasakan dampak dari pergeseran arus modal tersebut. Meski demikian, pasar keuangan domestik masih mencatatkan arus masuk (inflow) pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN), saham—meski terbatas—serta Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

“Flow ke emerging market tidak hanya ke RI tapi juga berkurang. Indonesia merasakan walaupun ada inflow di SBN, saham sedikit, SRBI. Tapi outflow Rp21 triliun overall,” ujar Destry.

Selain berdampak pada arus modal, Destry menilai eskalasi konflik turut memengaruhi harga komoditas. Dampak langsungnya, menurut dia, terlihat pada kenaikan harga minyak, yang dikaitkan dengan pemblokiran Selat Hormuz oleh Iran—jalur strategis pelayaran dunia.

Berdasarkan perhitungan BI, Destry menyebut produksi minyak Iran hanya sekitar 5%, namun Selat Hormuz berkontribusi sekitar 20% terhadap perdagangan minyak global. Situasi ini dinilai mendorong kenaikan harga minyak dan memicu penguatan dolar AS.

“Sehingga meningkatkan harga minyak, jadi harga minyak kemarin 3 hari lalu sudah tercapai kesepakatan AS-Iran. Tapi semalam belum ada kesepakatan. Akibatnya naik semua, dxy naik di atas 100, mata uang regional advance ekonomi mengalami kelemahan,” kata Destry.

Ia menambahkan, dampak tidak langsung dari penutupan Selat Hormuz dan kenaikan harga minyak juga menjalar ke komoditas lain. BI mencermati adanya kenaikan harga emas, batu bara, aluminium, serta minyak sawit mentah (CPO).

Menurut Destry, kenaikan batu bara terjadi seiring persiapan alternatif energi, sementara CPO juga meningkat. Ia menilai kondisi ini memberikan dua sisi dampak bagi Indonesia: harga minyak yang naik berpotensi menjadi tekanan, namun komoditas ekspor tertentu justru menguat.

“Batu baru naik karena mempersiapkan alternatif energi, CPO naik. Jadi sebenarnya dampak tidak langsung cukup bagus ke Indonesia karena ada coal, CPO, emas. Dampaknya ada 2 sisi harga minyak naik tapi komoditi ekspor juga meningkat,” ujarnya.

Destry juga menyoroti dampak konflik Iran dengan Israel dan AS terhadap perdagangan serta produksi. Ia menyebut kontribusi Iran terhadap PDB global sekitar 1%, sementara porsi ekspor-impor Iran terhadap total perdagangan global juga di bawah 1%.

Namun, gangguan di Selat Hormuz dinilai memicu disrupsi di Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab, sehingga berdampak tidak langsung ke negara lain, termasuk China, Irak, Turki, dan India yang disebut sebagai pusat produksi global.

“Sehingga ini meningkatkan biaya pengapalan dan premi asuransi naik jadi logistik naik, ada gangguan global supply chain. Kesimpulannya harga komoditas global naik, emas, batu bara, nikel, pertanian juga naik. Yang terbaru plastik karena ada supply chain, ujungnya ada penurunan produksi,” tutur Destry.

Dalam konteks tersebut, Destry memperkirakan ekonomi global berpotensi melambat dengan inflasi yang meningkat, atau yang dikenal sebagai stagflasi.

“Ini namanya stagflasi enggak bagus ya. Respons kebijakan menjadi penting. Beberapa negara kebijakan fiskalnya akan longgar kemudian kebijakan moneter yang tren ke bawah akan lebih berhati-hati karena sekarang berlomba membuat aset domestik menjadi menarik,” kata dia.