BERITA TERKINI
Rupiah Tertekan ke Kisaran Rp16.900 per Dolar AS, Dampaknya Beragam bagi Saham Ekspor dan Impor

Rupiah Tertekan ke Kisaran Rp16.900 per Dolar AS, Dampaknya Beragam bagi Saham Ekspor dan Impor

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada dalam tekanan depresiasi hingga menyentuh kisaran Rp16.900/US$. Pergerakan ini memunculkan dampak yang berbeda-beda bagi emiten di pasar modal, terutama antara perusahaan berorientasi ekspor dan perusahaan yang memiliki beban impor tinggi.

Di tengah meningkatnya volatilitas kurs, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru dinilai menunjukkan ketahanan dalam enam bulan terakhir. Data pasar juga memperlihatkan adanya akumulasi beli yang konsisten, tidak hanya pada sektor yang diuntungkan oleh penguatan dolar AS, tetapi juga pada beberapa sektor yang secara fundamental memiliki eksposur risiko nilai tukar.

Depresiasi rupiah dapat menjadi katalis positif bagi emiten yang menerima pendapatan dalam dolar AS, sementara sebagian besar biaya operasionalnya berbasis rupiah. Dalam situasi seperti ini, konversi pendapatan valas ke rupiah berpotensi mendorong kenaikan margin laba.

Pergerakan tersebut tercermin pada saham emiten komoditas dan manufaktur berorientasi ekspor. PT Timah Tbk (TINS) disebut mencatatkan apresiasi harga yang kuat dalam enam bulan terakhir, didorong kombinasi faktor harga komoditas global dan selisih kurs. Tren serupa juga terlihat pada emiten kertas seperti INKP dan TKIM, yang pergerakannya menguat seiring ekspektasi peningkatan pendapatan valas.

Menariknya, penguatan juga terjadi pada kelompok saham yang secara teori lebih rentan terdampak pelemahan rupiah, seperti sektor properti dan barang konsumsi. Biasanya, depresiasi rupiah menekan emiten yang memiliki utang valuta asing atau ketergantungan besar pada bahan baku impor.

Namun, dalam enam bulan terakhir, saham properti seperti MDLN dan ASRI justru disebut mencatatkan kenaikan harga lebih dari 30%. Penguatan pada sektor yang sensitif terhadap kurs dan suku bunga ini dipandang sebagai indikasi pasar sedang berada dalam fase bullish. Investor dinilai mungkin telah mengantisipasi risiko pelemahan rupiah (priced-in), atau menilai valuasi sektor tersebut cukup atraktif untuk dikoleksi.

Meski begitu, tekanan tetap terlihat pada emiten dengan porsi bahan baku impor yang dominan. Salah satu contoh yang disebut adalah ICBP, yang mengalami koreksi harga saham seiring kekhawatiran pasar terhadap potensi tergerusnya margin laba bersih.

Secara keseluruhan, respons pasar mencerminkan optimisme yang tinggi. Kenaikan harga saham yang meluas ke berbagai sektor, meskipun di tengah sentimen negatif nilai tukar, menunjukkan kuatnya animo pasar terhadap prospek pemulihan ekonomi jangka panjang.

Catatan: Artikel ini merupakan produk jurnalistik berupa pandangan riset dan tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada pada pembaca.