Rupiah melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Kamis (22/1/2026). Di pasar spot, rupiah ditutup menguat 0,3% ke posisi Rp16.885 per dolar AS.
Penguatan rupiah terjadi setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan menahan suku bunga. Pasar juga merespons pernyataan Gubernur BI Perry Warjiyo yang menegaskan bank sentral “tidak akan ragu melakukan intervensi skala besar”, yang dinilai memberi sinyal kuat terkait komitmen stabilisasi nilai tukar.
Di sisi lain, pelemahan dolar AS dalam beberapa hari terakhir turut memberi ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Meski indeks dolar AS pada hari yang sama tercatat menguat tipis 0,1% di level 98,76, mayoritas mata uang Asia tetap bergerak menguat.
Sejumlah mata uang di kawasan juga mencatat penguatan, di antaranya peso Filipina yang naik 0,21%, dolar Taiwan menguat 0,14%, serta rupee India yang naik 0,12%.
Dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu (21/1/2026), Perry menyatakan fokus kebijakan saat ini diarahkan pada stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global. “Fokus kebijakan saat ini pada upaya stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global guna mendukung pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Bagi pasar Asia, meredanya tensi geopolitik di panggung internasional dalam World Economic Forum (WEF) turut menjadi sentimen positif yang mendorong mata uang kawasan bergerak di zona penguatan.

