Jambi—PT Sari Aditya Loka (SAL), anak usaha PT Astra Agro Lestari Tbk, menyatakan komitmennya mendukung agenda pembangunan berkelanjutan pemerintah daerah di Provinsi Jambi melalui berbagai program di bidang sosial, kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan lingkungan.
Asisten Sustainability PT SAL Slamet Riyadi mengatakan, sepanjang 2025 perusahaan menjalankan program kesehatan berbasis masyarakat yang berkontribusi pada pencegahan dan penurunan stunting. Menurut dia, upaya tersebut mendapat apresiasi dari pemerintah daerah, termasuk penghargaan dari Kabupaten Merangin serta piagam Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) dari BKKBN Provinsi Jambi pada Desember 2025.
Slamet menyampaikan hal itu saat silaturahmi dengan media di Jambi, Senin (23/2). Ia menilai langkah perusahaan sejalan dengan arahan Gubernur Jambi Al Haris yang menekankan bahwa penurunan stunting membutuhkan kolaborasi lintas sektor, tidak hanya kesehatan, tetapi juga pendidikan, ekonomi, sosial, pertanian, hingga infrastruktur. Dalam konteks tersebut, dunia usaha dipandang sebagai mitra strategis pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.
Melalui program Astra Sehat, PT SAL membina 35 posyandu di wilayah ring 1 operasional dan enam posyandu khusus komunitas Suku Anak Dalam (SAD). Kegiatan yang dijalankan meliputi pemberian makanan tambahan, pelatihan kader, dukungan fasilitas kesehatan, layanan pengobatan, hingga rujukan pasien.
Bersama puskesmas setempat, perusahaan juga mengoperasikan layanan kesehatan keliling yang menjangkau 241 kepala keluarga serta menyediakan ambulans khusus bagi masyarakat SAD. Fasilitas ini ditujukan untuk memperluas akses layanan kesehatan dasar bagi kelompok rentan di wilayah terpencil.
Di bidang pendidikan, hingga 2025 PT SAL membina 13 sekolah di Merangin dan Kabupaten Sarolangun dengan total 412 siswa dan 16 tenaga pendidik. Perusahaan juga menyediakan Wisma Madu Rimbo sebagai fasilitas tempat tinggal bagi pelajar SAD dari jenjang SD hingga SMA.
Di wilayah ring 1, pembinaan pendidikan mencakup 18 sekolah serta bantuan honor bagi 31 guru dari enam sekolah. Sementara untuk lingkungan internal perusahaan, pengelolaan dua TK dan empat TPA ditujukan mendukung pendidikan anak karyawan dengan total 70 siswa.
Program pemberdayaan ekonomi masyarakat dilakukan dengan pendekatan berbasis potensi lokal. Perusahaan menggelar kegiatan suluh rimbo bersama komunitas SAD di Desa Bukit Suban dan wilayah Kecamatan Tabir Selatan sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan.
PT SAL juga mengembangkan budidaya serai wangi bersama kelompok tani yang melibatkan masyarakat SAD dan warga desa setempat, disertai pendampingan teknis hingga pemanfaatan hasil panen. Di sektor perikanan, perusahaan mendorong budidaya ikan air tawar untuk memperkuat ketersediaan pangan sekaligus menambah sumber pendapatan masyarakat.
Pemberdayaan perempuan dilakukan melalui dukungan kepada dua Kelompok Wanita Tani di Desa Muara Delang dan Desa Sungai Sahut, antara lain melalui peningkatan kapasitas kelompok dan pendampingan usaha produktif. Selain itu, perusahaan membina kelompok kerajinan komunitas SAD seperti Selambai, Bepayung, dan Grip yang memanfaatkan hasil hutan bukan kayu secara lestari.
Di bidang pertanian pangan, pembinaan budidaya padi dilakukan bersama Kelompok Tarib di wilayah ring 1 sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan desa.
Kontribusi perusahaan juga menyasar sektor lingkungan. Sepanjang 2025, PT SAL menyalurkan 600 bibit pohon jengkol yang ditanam komunitas SAD di kawasan penyangga Taman Nasional Bukit Duabelas. Program ini diharapkan memberi manfaat ekonomi jangka panjang sekaligus menjaga kelestarian hutan.
Untuk perlindungan sosial, perusahaan rutin menyalurkan bantuan Jaminan Hidup (JADUP) kepada 331 kepala keluarga komunitas SAD di wilayah ring 1 dalam bentuk paket sembako bulanan. Bantuan sosial juga disebut diberikan kepada penyandang disabilitas di Merangin.
Memasuki 2026, program pemberdayaan dilanjutkan. Pada Januari, perusahaan menyerahkan 5.000 bibit ikan lele kepada Kelompok Kerja Destana Desa Bukit Suban di Kecamatan Air Hitam untuk dikelola sebagai usaha perikanan produktif.
Program tersebut dirancang sebagai tahap awal pengembangan ekonomi desa berbasis budidaya terintegrasi. Sebelumnya, pendampingan serupa telah dilakukan kepada kelompok tani di Desa Muara Delang melalui sistem terpadu budidaya lele, ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB), dan maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai pakan alternatif.
Menurut Slamet, pemanfaatan maggot dari limbah organik mampu menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan produktivitas. Sistem ini juga dinilai membuka peluang pendapatan tambahan bagi masyarakat melalui pengelolaan sampah organik, produksi pakan, hingga hasil ternak.
Slamet menegaskan rangkaian program tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan agar kontribusi dunia usaha menjadi elemen integral pembangunan daerah. Ia berharap kolaborasi yang telah berjalan antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha dapat terus diperkuat untuk mewujudkan pembangunan Jambi yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak nyata.

