BERITA TERKINI
Harga Minyak Dunia Tembus USD 100 per Barel di Tengah Ketegangan AS-Israel-Iran

Harga Minyak Dunia Tembus USD 100 per Barel di Tengah Ketegangan AS-Israel-Iran

Harga minyak mentah global kembali melonjak dan menembus level 100 dolar AS per barel di tengah ketidakpastian arah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang belum menunjukkan tanda mereda. Situasi ini memicu volatilitas tinggi di pasar energi, seiring kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan strategis.

Minyak mentah Brent tercatat naik 4,55% ke 104,49 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 4,79% menjadi 92,35 dolar AS per barel. Di tengah pergerakan tersebut, harga minyak sempat melonjak hingga 113 dolar AS per barel sebelum kembali bergerak fluktuatif.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan peluang berakhirnya konflik dalam waktu dekat masih terbuka. Saat pelantikan Markwayne Mullin sebagai Menteri Keamanan Dalam Negeri, Trump mengatakan Iran “telah sepenuhnya dikalahkan” dan menyebut Amerika Serikat sedang menjalin negosiasi dengan para pemimpin Iran.

Namun, pemerintah Iran membantah adanya komunikasi langsung dengan Washington. Teheran menilai pernyataan tersebut sebagai upaya untuk memengaruhi harga energi serta pasar saham global.

Ketegangan meningkat setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dibalas oleh Teheran dengan langkah yang secara efektif menutup Selat Hormuz. Jalur ini merupakan rute strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia setiap hari, sehingga penutupan tersebut memperbesar kekhawatiran pasar terhadap gangguan distribusi energi.

Kepala eksekutif Wael Sawan memperingatkan potensi kekurangan pasokan minyak di Eropa mulai bulan depan. Ia mengatakan dampak krisis energi telah menyebar dari Asia Selatan ke Asia Tenggara dan Asia Timur, serta diperkirakan akan semakin terasa di Eropa pada April. “Asia Selatan menjadi wilayah pertama yang merasakan dampaknya. Dampak tersebut kemudian bergeser ke Asia Tenggara, Asia Timur, dan selanjutnya akan semakin terasa di Eropa memasuki April,” ujarnya seperti dikutip BBC, Rabu (25/3/2026).

Harga minyak sempat turun setelah pernyataan Trump yang menunda serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari, menyusul pembicaraan yang disebut berlangsung konstruktif. Namun, keraguan terhadap efektivitas negosiasi kembali mendorong harga minyak naik ke atas 103 dolar AS per barel.

Di pasar saham, pergerakan indeks global bervariasi. Di Amerika Serikat, indeks S&P 500 turun 0,37% dan ditutup pada 6.556,37. Di Eropa, FTSE 100 London naik 0,72%, indeks DAX Jerman melemah tipis, sedangkan CAC 40 Prancis menguat 0,23%.

Berbeda dari AS dan Eropa, pasar saham Asia mencatat penguatan. Indeks Nikkei 225 naik 1,4%, sementara Hang Seng Index dan KOSPI masing-masing menguat lebih dari 2,7%.

Dampak konflik juga mulai terasa di sektor riil. Dunia usaha di Inggris melaporkan kenaikan biaya input terbesar sejak 1992, berdasarkan survei S&P Global Purchasing Managers’ Index.

Sejumlah negara mulai mengambil langkah untuk meredam dampak lonjakan harga energi. Amerika Serikat melonggarkan sebagian sanksi terhadap Rusia dan minyak Iran, sementara China menunda kenaikan harga bahan bakar untuk mengurangi tekanan terhadap konsumen.