PT Bank Permata Tbk. (BNLI) bersiap memperketat seleksi mitra peer-to-peer (P2P) lending menjelang 2026. Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi penguatan kolaborasi bisnis agar kerja sama hanya dilakukan dengan platform yang memiliki kinerja serta tata kelola yang dinilai sehat dan berkelanjutan.
Langkah tersebut sejalan dengan upaya perbankan memperluas inklusi keuangan melalui kemitraan strategis, khususnya untuk menjangkau segmen masyarakat yang belum dapat dilayani secara langsung oleh bank.
Division Head Customer Lending Permata Bank, Haryanto, menegaskan bahwa peran bank dalam ekosistem P2P bersifat kolaboratif, bukan sebagai pemberi pembiayaan langsung. “Kalau untuk bank, tidak bisa membiayai P2P secara langsung, tetapi yang bisa dilakukan adalah menjalin kerja sama,” ujarnya saat ditemui di World Trade Center 3, Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Menurut Haryanto, seleksi mitra P2P akan terjadi secara alamiah seiring meningkatnya standar industri dan penguatan pengawasan regulator. “Untuk kerja sama di tahun 2026, saya rasa P2P juga akan terseleksi dengan sendirinya,” katanya.
Permata Bank menilai platform P2P yang memiliki kinerja baik akan menjadi incaran berbagai bank. Di sisi lain, bank yang terbuka terhadap kolaborasi juga akan menjadi mitra pilihan bagi P2P. Haryanto menyebut hubungan tersebut bersifat saling memilih dan saling menguatkan.
Dalam pola kerja sama yang berjalan, Permata Bank memfokuskan pembiayaan pada segmen kredit konsumer. Adapun pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah ditangani oleh unit tersendiri. “Untuk P2P lending, kami fokus pada consumer loan. Adapun UMKM atau SMI memiliki unit khusus,” jelasnya.
Selain itu, Permata Bank juga mengkaji pengembangan produk buy now pay later (BNPL) seiring dorongan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar perbankan terlibat dalam layanan tersebut. Haryanto menyatakan kajian masih berada pada tahap asesmen, termasuk penyesuaian terhadap kebijakan terbaru regulator.
Terkait kondisi ekonomi, bank menilai pelemahan daya beli belum berdampak signifikan terhadap kinerja karena mayoritas nasabah berada di segmen menengah ke atas. Meski demikian, bank masih melakukan asesmen lanjutan sebelum menyampaikan hasilnya kepada publik.

