Digitalisasi sistem pembayaran di Kalimantan Timur terus menunjukkan perkembangan. Hingga November 2025, jumlah pengguna Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) tercatat mencapai 841,6 ribu pengguna, naik dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di angka 832,6 ribu pengguna.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Timur, Budi Widihartanto, mengatakan peningkatan pengguna tersebut sejalan dengan meluasnya adopsi QRIS di kalangan merchant atau pelaku usaha. Menurutnya, ekosistem pembayaran digital semakin matang dan semakin diterima masyarakat.
“Per November 2025, merchant yang telah menggunakan QRIS di Kalimantan Timur mencapai 780,6 ribu unit. Angka ini meningkat dari bulan sebelumnya sebanyak 763,1 ribu merchant,” ujar Budi di Samarinda, Sabtu.
Budi menilai kenaikan jumlah pengguna dan merchant mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap pembayaran digital yang dianggap lebih efisien, aman, dan praktis. Ia juga menyebut nilai transaksi QRIS sepanjang November 2025 mencatat pertumbuhan yang cukup signifikan.
“Kenaikan ini menunjukkan bahwa QRIS semakin menjadi pilihan utama masyarakat dan pelaku usaha dalam bertransaksi. Nominal transaksi QRIS sepanjang November juga mencatatkan capaian yang sangat positif,” katanya.
Meski demikian, Budi mengungkapkan bahwa secara agregat volume transaksi sistem pembayaran nontunai di Kalimantan Timur justru mengalami tekanan. Pada periode yang sama, transaksi nontunai tercatat mengalami kontraksi sebesar 20,6 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan capaian bulan sebelumnya.
Di sisi lain, penggunaan uang kartal masih relatif dominan. Hal ini tercermin dari posisi net outflow uang kartal di Kalimantan Timur yang mencapai Rp491,2 miliar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meski pembayaran digital terus berkembang, kebutuhan masyarakat terhadap uang tunai masih cukup tinggi.

