Pemerintahan Presiden Donald Trump disebut berencana memulangkan migran asal Iran dari Amerika Serikat di tengah gelombang protes besar di Iran yang dilaporkan menewaskan ribuan orang. Penerbangan deportasi ini disebut akan menjadi yang pertama menuju Iran sejak pemberontakan massal di negara itu, yang disebut mencapai puncak pada awal Januari.
Dalam periode tersebut, Trump beberapa kali mengancam akan melancarkan serangan militer terhadap Iran sebagai respons atas tindakan keras pemerintah Iran. Namun, ia kemudian menarik kembali ancaman itu setelah menyatakan Teheran menangguhkan eksekusi yang sempat direncanakan.
Dewan Nasional Iran-Amerika (NIAC) pada Kamis menyatakan telah mengetahui rencana pemerintahan Trump untuk memulai kembali penerbangan deportasi ke Iran, setelah deportasi sebelumnya pada September dan Desember. Presiden NIAC Jamal Abdi mengkritik kebijakan tersebut dan menyebut pemulangan paksa itu berisiko mengembalikan warga Iran ke situasi berbahaya.
Sementara itu, Abolfazl Mehrabadi, diplomat yang mewakili kepentingan Teheran di Amerika Serikat, mengatakan kepada kantor berita resmi Iran, IRNA, pada Sabtu bahwa sekitar 40 warga Iran akan dideportasi. Menurutnya, mereka dijadwalkan berangkat pada Minggu dari bandara di Phoenix, Arizona.
Di antara rombongan tersebut terdapat dua pria gay yang disebut menghadapi ancaman hukuman mati di Iran. American Immigration Council, organisasi advokasi imigran yang mewakili keduanya, menyatakan bahwa homoseksualitas dapat dijatuhi hukuman mati di Iran.

