BERITA TERKINI
Rupiah Melemah dan IHSG Turun di Tengah Pertumbuhan 5,11%: Pasar Soroti Kualitas Pertumbuhan

Rupiah Melemah dan IHSG Turun di Tengah Pertumbuhan 5,11%: Pasar Soroti Kualitas Pertumbuhan

Nilai tukar rupiah melemah berkelanjutan sejak awal perdagangan 5 Februari 2026. Rupiah tercatat terdepresiasi hingga menyentuh Rp16.830 per dolar AS atau turun 0,21 persen, mencerminkan tekanan pasar yang dinilai konsisten, bukan sekadar fluktuasi sesaat.

Salah satu pendorong pergerakan rupiah adalah persepsi pelaku pasar yang tidak seragam terhadap data pertumbuhan ekonomi. Perbedaan penilaian itu membuat sebagian investor bersikap lebih berhati-hati dengan mengurangi eksposur pada aset berdenominasi rupiah.

Dari sisi eksternal, penguatan dolar AS turut memberi tekanan. Kenaikan indeks dolar AS mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap dolar sebagai aset aman (safe haven), yang berdampak pada pelemahan mayoritas mata uang di Asia. Baht Thailand melemah 0,54 persen dan ringgit Malaysia turun 0,37 persen. Namun pergerakan tidak sepenuhnya seragam: peso Filipina menguat 0,44 persen dan rupee India terapresiasi 0,10 persen, menunjukkan faktor fundamental domestik dan sentimen spesifik tiap negara tetap berperan di tengah dominasi sentimen global.

Di dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,11 persen sepanjang 2025. Angka ini dipandang relatif tangguh di tengah gejolak perekonomian global, terutama jika dibandingkan dengan sejumlah mitra dagang yang mengalami perlambatan. Pertumbuhan Indonesia sejalan atau sedikit lebih baik dibanding Tiongkok (5 persen), Malaysia (4,9 persen), Filipina (4,4 persen), dan Singapura (4,8 persen). Korea Selatan tercatat tumbuh 1 persen, sementara Vietnam mencapai 8 persen.

Meski pertumbuhan berada di kisaran 5 persen, respons pasar keuangan tidak sepenuhnya mencerminkan optimisme yang sama. Kepercayaan investor disebut belum kuat, terlebih setelah Moody’s menurunkan outlook Indonesia dari “stabil” menjadi “negatif”. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan dan kualitas pertumbuhan ekonomi.

Tekanan pada pasar keuangan domestik juga terlihat dari arus keluar modal asing (capital outflow) yang dinilai signifikan, baik dari pasar surat utang maupun pasar saham, dalam 12 bulan terakhir. Dalam jangka pendek, arus keluar harian dari pasar saham tercatat sebesar USD85,4 juta, seiring dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 0,53 persen ke level 8.301. Pergerakan ini mengindikasikan tekanan jual masih berlangsung dan sentimen pasar cenderung negatif.

Kepercayaan investor menjadi faktor penting, terutama bagi negara yang memiliki ketergantungan tinggi pada pembiayaan eksternal. Ketika kepercayaan melemah, arus modal asing dinilai lebih volatil dan rentan keluar. Pelaku pasar juga disebut kurang meyakini keberlanjutan strategi pertumbuhan ekonomi pemerintah yang dinilai terlalu bertumpu pada belanja fiskal melalui program-program populis, karena dipandang berisiko bagi stabilitas fiskal jangka menengah dan kurang menciptakan sumber pertumbuhan yang produktif serta berkelanjutan.

Situasi ini menggambarkan ketidaksinkronan antara kinerja ekonomi riil dan respons pasar keuangan. Anjloknya IHSG dan melemahnya rupiah menunjukkan pelaku pasar tidak hanya menilai besaran pertumbuhan, tetapi juga kualitas serta sumber pertumbuhan tersebut. Ketika pertumbuhan dipersepsikan masih bertumpu pada belanja fiskal dan konsumsi, sementara investasi dan ekspor belum menjadi mesin utama, investor cenderung meragukan keberlanjutan pertumbuhan jangka menengah.

Keraguan itu diperkuat oleh tekanan eksternal berupa penguatan dolar AS dan volatilitas global, yang mendorong arus keluar modal dari pasar keuangan domestik. Dalam konteks ini, pertumbuhan 5,11 persen dinilai lebih mencerminkan resiliensi jangka pendek dan belum sepenuhnya membangun kepercayaan pasar. Stabilitas IHSG dan nilai tukar, dengan demikian, tidak semata ditentukan oleh angka pertumbuhan, melainkan juga oleh struktur pertumbuhan, kredibilitas kebijakan, serta persepsi risiko makroekonomi secara keseluruhan.

Di tengah ketidakpastian global, respons pasar yang negatif juga dikaitkan dengan kekhawatiran terhadap kualitas dan keberlanjutan sumber pertumbuhan domestik, terutama ketika pertumbuhan dipersepsikan masih sangat bergantung pada ekspansi belanja fiskal dan program populis, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP). Kondisi ini dinilai menempatkan perekonomian Indonesia pada posisi rentan, mengingat tingginya kebutuhan terhadap arus modal asing untuk menjaga stabilitas sektor keuangan dan pembiayaan defisit.