YOGYAKARTA — Lonjakan harga minyak dunia yang dipicu konflik di Timur Tengah dinilai menjadi ancaman baru bagi perekonomian global. Namun, di tengah tekanan tersebut, Indonesia disebut masih memiliki ketahanan ekonomi yang relatif baik berkat fondasi domestik yang dinilai kuat.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah sejak akhir Februari 2026 berdampak langsung pada pasar energi global. Operasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, serta penutupan Selat Hormuz, memperparah gangguan distribusi minyak dunia.
Situasi itu mendorong harga minyak mentah naik hingga mencapai USD 108 per barel. Kenaikan tersebut meningkatkan risiko inflasi, terutama bagi negara-negara yang masih bergantung pada impor energi.
Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Muhammad Edhie Purnawan menilai perkembangan ini sebagai tantangan serius bagi stabilitas ekonomi global.
Meski demikian, Edhie menilai Indonesia masih memiliki daya tahan yang baik. Ia merujuk sejumlah indikator domestik, termasuk Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur yang stabil di level 53,8 serta pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 sebesar 5,39 persen.
“Cadangan devisa sebesar USD 151,9 miliar menjadi benteng pertahanan terakhir yang memadai untuk meredam turbulensi pasar,” ujar Edhie, Jumat (27/3/2026).
Menurutnya, pemerintah juga mengandalkan APBN sebagai instrumen utama untuk menjaga daya beli masyarakat, antara lain melalui subsidi energi. Dari sisi moneter, Bank Indonesia disebut memperkuat likuiditas melalui kebijakan makroprudensial sebesar Rp 427,5 triliun serta menjaga suku bunga kredit di level 8,80 persen.
Edhie turut menyoroti peran ekonomi digital dalam menopang ketahanan domestik. Lonjakan transaksi QRIS yang mencapai lebih dari 131 persen dinilai menunjukkan aktivitas ekonomi masyarakat tetap bergerak.
Di tengah eskalasi konflik, Edhie menekankan pentingnya penyelesaian melalui jalur damai. “Perdamaian tercapai saat setiap pihak memahami kepentingan masing-masing sekaligus menemukan titik temu kemanfaatan bersama,” katanya.
Ia menambahkan, sinergi kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci menjaga stabilitas jangka panjang. “Apabila sinergi antara stimulus fiskal dan kebijakan moneter yang pro-growth ini dijalankan secara konsisten, Indonesia tidak hanya akan selamat dari resesi global, melainkan juga bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi yang modern, mandiri, dan resilien,” paparnya.