Konflik yang berkecamuk di Timur Tengah mulai memunculkan efek berantai terhadap berbagai sektor ekonomi global. Dampaknya tidak hanya terkait keamanan, tetapi juga gangguan operasional dan lonjakan harga energi—terutama bahan bakar—yang menekan industri penerbangan, pariwisata, transportasi laut, hingga rantai pasok pupuk.
Industri penerbangan menjadi salah satu sektor yang paling cepat merasakan dampak. Sejumlah maskapai membatalkan penerbangan ke wilayah terdampak dengan pertimbangan keselamatan. Meski maskapai berbasis Timur Tengah hanya menyumbang sekitar 9,5% dari kapasitas penerbangan global, perannya dinilai penting sebagai penghubung rute jarak jauh antara Eropa dan Asia, sehingga gangguan di kawasan ini berimbas luas.
Sejak konflik pecah pada 28 Februari, data menunjukkan Qatar Airways membatalkan hampir 91% penerbangannya. Etihad Airways membatalkan sekitar tiga perempat jadwal penerbangan, sementara Emirates hampir setengahnya.
Di luar pembatalan, maskapai di berbagai negara juga menghadapi kenaikan harga bahan bakar jet yang disebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding sebelum perang. Dengan bahan bakar dapat menyumbang hingga sepertiga biaya operasional, sebagian maskapai mulai meneruskan kenaikan tersebut kepada penumpang melalui tarif yang lebih tinggi dan biaya tambahan (surcharge).
Keterbatasan pasokan bahan bakar akibat gangguan distribusi dan pembatasan ekspor turut memperberat kondisi. Situasi ini membuat sebagian maskapai harus mengurangi frekuensi penerbangan.
Kenaikan harga tiket serta ketidakpastian keamanan kemudian memengaruhi minat bepergian dan menekan sektor pariwisata. Proyeksi menunjukkan jumlah wisatawan ke Timur Tengah berpotensi turun signifikan. Oxford Economics memperkirakan kunjungan ke kawasan tersebut dapat merosot 11% hingga 27% tahun ini, berbanding terbalik dengan proyeksi sebelumnya yang memperkirakan pertumbuhan 13%.
Dampak pariwisata juga diperkirakan meluas di luar Timur Tengah. Konflik disebut berpotensi mengurangi hingga 116 juta perjalanan wisata dan 858 juta malam menginap di hotel di luar kawasan tersebut.
Di Eropa, indikator pendapatan hotel per kamar sempat turun 6% pada pekan pertama konflik. Meski penurunan melambat di beberapa negara seperti Inggris dan Prancis, dampak lebih besar dilaporkan terjadi di negara yang lebih bergantung pada wisatawan asing, seperti Irlandia dan Portugal. Pada saat yang sama, beberapa negara—termasuk Spanyol dan Portugal—dinilai berpeluang diuntungkan oleh pergeseran tujuan wisata.
Sektor transportasi laut yang mengangkut sekitar 80% perdagangan global juga ikut terdampak. Biaya bahan bakar kapal meningkat rata-rata 20%, yang kemudian mendorong naiknya ongkos pengiriman barang. Selain itu, gangguan jalur pelayaran vital dan kenaikan biaya energi turut memengaruhi produksi serta distribusi pupuk dunia.
Secara keseluruhan, kombinasi gangguan operasional, kenaikan biaya energi, dan ketidakpastian keamanan menjadikan konflik Timur Tengah sebagai faktor yang menekan berbagai sektor ekonomi global dalam waktu bersamaan.