JAKARTA – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) meyakini tren penerbitan surat utang (obligasi) korporasi di dalam negeri akan tetap positif pada 2026, meski nilai tukar rupiah berpotensi bergejolak seiring penguatan dolar AS.
Direktur Utama Pefindo Irmawati mengatakan optimisme tersebut terutama ditopang kebutuhan pembiayaan (financing) perusahaan, termasuk untuk mengelola jatuh tempo obligasi korporasi yang besar. Pernyataan itu ia sampaikan seusai acara “Optimalisasi Penerbitan Surat Utang dengan Credit Enhancement” di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (22/1/2026).
“Kami masih tetap memandang penerbitan obligasi di tahun 2026 tetap positif di tengah mungkin dolar (AS) yang lagi meningkat. Karena kami lebih melihat kepada kebutuhan financing dari emiten-emiten kita,” ujar Irmawati.
Menurutnya, banyaknya obligasi yang jatuh tempo juga akan membuat investor memiliki dana tunai (cash) yang kemudian berpotensi kembali ditempatkan ke instrumen investasi, termasuk obligasi baru yang diterbitkan emiten untuk refinancing.
“Biasanya kalau ada yang jatuh tempo, selain mereka refinancing, investor juga punya cash kan, nah cash itu yang harus dia invest lagi. Nah itu kan membuka peluang juga bagi emiten-emiten untuk menerbitkan surat utang tadi yang jatuh tempo,” ujarnya.
Selain faktor kebutuhan pendanaan dan jatuh tempo, Irmawati menilai prospek obligasi korporasi pada 2026 turut didukung oleh kondisi suku bunga domestik yang cenderung rendah. Ia menjelaskan kupon obligasi mengikuti volatilitas suku bunga, sehingga ketika suku bunga rendah, biaya kupon relatif lebih menarik bagi penerbit.
Ia menambahkan, selisih (spread) antara suku bunga kredit perbankan dan kupon obligasi dinilai masih cukup lebar. Kondisi ini membuat obligasi tetap menarik bagi perusahaan sebagai alternatif pembiayaan, sekaligus menarik bagi investor karena memberikan kupon dan umumnya dipandang berisiko lebih rendah dibanding saham.
“Dan kita masih melihat perbedaan antara suku bunga pinjaman, kredit bank dengan kupon itu masih cukup tebal. Jadi bagi emiten juga kelihatannya masih cukup favorable bagi mereka untuk tetap di surat utang. Dan bagi investor juga, tentunya karena pasti ada kupon itu kan pasti lebih baik daripada instrumen lain, dan biasanya fixed income dibandingkan dengan saham itu risiko lebih rendah,” ujar Irmawati.
Terkait pilihan perusahaan antara menerbitkan obligasi atau mengandalkan pinjaman perbankan, Irmawati menilai keputusan tersebut bergantung pada strategi masing-masing emiten. Namun, ia memperkirakan pertumbuhan penerbitan obligasi korporasi akan sejalan dengan pertumbuhan kredit pada tahun ini karena keduanya sama-sama menjadi bagian dari perencanaan pembiayaan perusahaan.
“Nah itu kan bagian-bagian merupakan perencanaan dari financing dari perusahaan. Jadi sebenarnya complimentary sih. Tidak yang kayak oh bersaing gitu sih, kami tidak melihat itu. Tetapi ini complimentary. Jadi pilihan dari emiten itu mau tetap obligasi pasti butuh, pinjaman dari bank pasti butuh,” ujarnya.
Dalam proyeksinya, Pefindo memperkirakan penerbitan surat utang korporasi berada di kisaran Rp154 triliun hingga Rp196,86 triliun pada 2026, dengan titik tengah proyeksi Rp175,77 triliun. Sementara itu, nilai surat utang yang jatuh tempo diproyeksikan mencapai Rp162,7 triliun pada 2026.

