Produk olahan keripik menjadi komoditas unggulan yang paling besar menyumbang nilai ekspor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Malang, Jawa Timur. Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang mencatat, hingga 2025 mayoritas UMKM yang berhasil menembus pasar global berasal dari sektor olahan keripik.
Kepala Diskopindag Kota Malang, Eko Sri Yuliadi, mengatakan hingga kini terdapat 95 UMKM yang telah mengekspor produknya ke luar negeri. Dari jumlah tersebut, aneka keripik—termasuk keripik tempe—menjadi komoditas yang mendominasi permintaan di sejumlah negara.
“Produk yang sudah kami ekspor macam-macam, ada kriya, makanan seperti keripuk. Yang paling banyak permintaan aneka produk keripik, seperti keripik tempe,” ujar Eko di Kota Malang, Kamis (22/1/2026).
Diskopindag menyebut, jika digabungkan dengan komoditas UMKM lainnya, nilai ekspor produk asal Kota Malang telah mencapai sekitar Rp 100 miliar. Capaian tersebut menjadi modal optimistis Pemerintah Kota Malang untuk mendorong lebih banyak UMKM “naik kelas” pada 2026.
Untuk 2026, Diskopindag menargetkan 10 persen dari total sekitar 40.000 UMKM di Kota Malang atau sekitar 4.000 pelaku usaha dapat naik kelas. Eko menjelaskan, UMKM disebut naik kelas apabila mengalami peningkatan omzet tahunan, misalnya dari Rp 500 juta menjadi Rp 5 miliar per tahun.
Guna mengejar target itu, Diskopindag berencana memperkuat pola pendampingan yang sebelumnya telah berjalan. Pada 2026, cakupan pendampingan akan diperluas dengan skema satu tim pendamping membina 50 hingga 100 UMKM.
“Yang belum 'naik kelas' akan kami ikut sertakan pendampingan di tahun 2026, karena sifatnya berkelanjutan. Pendampingan akan lebih detail, mulai dari pengemasan produk, pemasaran, hingga kesiapan ekspor,” kata Eko.
Penguatan pendampingan dilakukan karena capaian UMKM naik kelas pada 2025 disebut belum sesuai harapan. Dari target yang ditetapkan, baru sekitar 100 UMKM yang berhasil naik kelas.
Selain pendampingan, Diskopindag juga akan memaksimalkan peran klinik ekspor untuk memperluas pasar luar negeri. Dengan kerja sama yang telah terjalin dengan sejumlah negara, pemerintah menargetkan jumlah UMKM yang mampu menembus pasar ekspor meningkat hingga 50 persen pada 2026.
“Targetnya 2025 UMKM yang ekspor bisa meningkat 50 persen. Klinik ekspor dimaksimalkan karena pasarnya sudah terbuka dan kami memiliki kerja sama dengan luar negeri,” ujar Eko.

