Bank Indonesia (BI) dinilai masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga acuan hingga 50 basis poin (bps) lagi. Penilaian tersebut tercantum dalam laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) bertajuk OECD Economic Outlook, Volume 2025 Issue.
Sejak siklus pelonggaran dimulai pada Agustus 2024, BI rate telah turun dari 6,25% menjadi 4,75%. Namun, OECD mencatat penurunan tersebut belum sepenuhnya tercermin pada suku bunga kredit perbankan maupun imbal hasil obligasi korporasi, yang disebut baru turun tipis sejak awal periode penurunan suku bunga.
OECD menilai stabilnya inflasi serta permintaan domestik yang berada di kisaran target membuka ruang pelonggaran tambahan. Lembaga tersebut memperkirakan BI masih bisa menurunkan suku bunga acuan sekitar 50 bps menuju level yang lebih akomodatif.
Meski demikian, OECD mengingatkan bahwa langkah pemangkasan suku bunga tetap harus mengacu pada data dan mempertimbangkan risiko inflasi. Salah satu faktor yang disorot adalah depresiasi rupiah sekitar 3% terhadap dolar AS sejak awal tahun.
Dari sisi pasar, tekanan terhadap rupiah disebut meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Head of Macroeconomics and Financial Market Research Bank Mandiri, Dian Ayu Yustina, menilai volatilitas rupiah banyak dipengaruhi ketidakpastian arah kebijakan The Federal Reserve serta perubahan ekspektasi pemangkasan Fed Funds Rate (FFR). Menurutnya, pasar kini melihat peluang pemangkasan bunga The Fed semakin besar dan perkembangan ini perlu dicermati karena berpengaruh langsung terhadap nilai tukar.
Dian memperkirakan BI akan mempertahankan BI rate di level 4,75% hingga akhir tahun, sementara peluang penurunan suku bunga dinilai lebih terbuka pada 2026. “Tahun 2026 kami perkirakan dua kali penurunan suku bunga,” ujarnya dalam Mandiri Macro and Market Brief 4Q25, Rabu (3/12).
Dari internal BI, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengonfirmasi ruang penurunan suku bunga memang masih ada seiring inflasi yang tetap rendah. Namun, ia menegaskan kebijakan akan tetap bersifat bergantung pada data dan mempertimbangkan kondisi global. “Tetap data dependen dan mempertimbangkan kondisi global,” ujar Destry di Bursa Efek Indonesia (BEI), kemarin.

