BERITA TERKINI
Kinerja Saham Konglomerasi Awal 2026 Bervariasi: Grup Lippo Menguat, Emiten Prajogo Pangestu Terkoreksi

Kinerja Saham Konglomerasi Awal 2026 Bervariasi: Grup Lippo Menguat, Emiten Prajogo Pangestu Terkoreksi

Kinerja saham emiten konglomerasi pada awal 2026 bergerak beragam. Rotasi sektor, sentimen global, hingga peluang masuk indeks MSCI disebut menjadi faktor yang ikut menentukan arah pergerakan harga. Di tengah dinamika tersebut, sebagian saham mencatat kenaikan, sementara yang lain terkoreksi setelah reli agresif pada tahun sebelumnya.

Pergerakan ini terlihat dari ringkasan kinerja year to date (YTD) sejumlah emiten konglomerasi. Pada Grup Salim, mayoritas saham bergerak menguat. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) naik 1,12%, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) naik 3,10%, PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) naik 6,14%, dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) naik 1,26%.

Sementara itu, saham-saham yang berafiliasi dengan Grup Prajogo Pangestu cenderung melemah pada awal 2026. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun 13,79%, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) turun 1,81%, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) turun 4,21%, dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) turun 13,70%.

Pada Grup Bakrie, pergerakan saham juga bervariasi. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) turun 17,14%, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) turun 11,33%, dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) turun 7,32%. Namun, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) naik 4,24%, sedangkan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) melonjak 35,25%.

Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder Pasardana, Hans Kwee, menilai perbedaan kinerja saham konglomerasi dipicu oleh rotasi sektor dan pergerakan harga komoditas global. Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, menambahkan bahwa kualitas laba, arus kas, serta valuasi menjadi faktor pembeda utama antar emiten.

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menilai potensi masuk indeks MSCI turut memengaruhi pergerakan harga saham konglomerasi, meski kerap diikuti aksi ambil untung. Ke depan, para analis menilai saham konglomerasi masih memiliki daya tarik sepanjang 2026, terutama emiten di sektor defensif, konsumsi, energi terintegrasi, dan infrastruktur, seiring investor yang semakin selektif dalam mengelola risiko.