PT Kabar Bursa Indonesia (Kabarbursa.com) menggelar acara Capitalk Smart Investor 2026 bertema “Strategi Membangun Portofolio Hijau Berkualitas Berkelanjutan Berbasis Data” dalam rangka perayaan hari ulang tahun (HUT) ke-2 pada 2026. Kegiatan ini berlangsung di lingkungan Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Jumat, 27 Februari 2026.
CEO Kabar Bursa Indonesia, Upi Asmaradhana, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut sebagai bagian dari rangkaian peringatan hari jadi kedua Kabarbursa.com. Ia menyebut momen ini menjadi ajang introspeksi bagi perusahaan yang baru memasuki usia dua tahun.
“Alhamdulillah hari ini kita bisa bertemu dalam rangkaian hari ulang tahun kedua Kabar Bursa, bagian dari Kabar Grup Indonesia (KGI) Network. Ini menjadi momentum introspeksi di usia baru dua tahun, seperti bayi yang mulai belajar merangkak,” ujar Upi.
Upi menjelaskan, pemilihan Masjid Istiqlal sebagai lokasi acara merupakan bentuk dukungan terhadap pemberdayaan ekonomi Islam sekaligus wujud moderasi keberagaman beragama di Indonesia. Ia menambahkan, sebagai media yang bergerak di bidang ekonomi, investasi, dan perbankan, Kabar Bursa menaruh perhatian pada penguatan ekonomi Islam, termasuk pemberdayaan ekonomi umat.
“Kabar Bursa sebagai salah satu media ekonomi, investasi, dan juga perbankan akan menyasar ceruk ekonomi Islam terkait bagaimana pemberdayaan ekonomi umat menjadi salah satu bagian penting membangun bangsa dan negara,” kata Upi.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, menilai forum investasi seperti ini dapat menjadi salah satu indikator kesehatan bangsa di tengah dinamika global. Ia menyebut bursa sebagai barometer untuk mengukur kondisi sebuah negara.
“Dalam rangka kita memperingati ulang tahun yang kedua Kabar Bursa ini, tentu ini semoga kita semua dimudahkan. Kita berbicara tentang bursa Ini adalah suatu tren global. Bursa itu seperti barometer untuk mengukur kesehatan sebuah negara,” ujar Nasaruddin.
Nasaruddin juga menyoroti peran Masjid Istiqlal sebagai pusat peradaban modern yang terbuka bagi seluruh kalangan. Menurutnya, Istiqlal tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga ruang kolaborasi lintas agama dan lintas sektor.
“Istiqlal menjadi semacam epicentrum peradaban Islam modern. Kami berkolaborasi dengan berbagai komponen, termasuk non-Muslim. Istiqlal hadir sebagai rumah kemanusiaan bagi semua,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengelolaan Masjid Istiqlal telah mengedepankan prinsip keberlanjutan, termasuk penggunaan energi surya dan pengolahan ulang air wudhu. “Listrik yang kami gunakan banyak ditopang solar system. Air wudhu didaur ulang dan dimanfaatkan kembali. Ini bagian dari komitmen efisiensi dan keberlanjutan,” tutup Nasaruddin.

