Inflasi Jepang melambat untuk pertama kalinya dalam empat bulan terakhir, dipengaruhi subsidi pemerintah. Meski begitu, data terbaru masih menunjukkan tekanan harga yang mendasari tetap kuat, menjelang keputusan kebijakan Bank of Japan (BOJ).
Kementerian Urusan Internal dan Komunikasi pada Jumat (23/1) melaporkan indeks harga konsumen (IHK) di luar bahan makanan segar naik 2,4% pada Desember dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut turun dari 3% pada November dan sejalan dengan perkiraan moderat para ekonom.
Perlambatan inflasi terutama didorong dua efek subsidi. Pertama, subsidi bahan bakar bensin dan diesel yang baru digelontorkan pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi menekan biaya energi. Kedua, adanya faktor pembanding (base effect) dari penghapusan subsidi energi pada Desember 2024 yang sempat mendorong harga tahun lalu, membuat laju kenaikan pada 2025 terlihat lebih kecil secara tahunan.
Sejalan dengan itu, harga energi turun 3,1% dibandingkan setahun sebelumnya, berbalik dari kenaikan 2,5% pada November. Namun, indeks “core-core” yang mengecualikan dampak energi naik 2,9%, mengindikasikan tekanan inflasi mendasar masih bertahan.

