Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis pada perdagangan Kamis (22/1/2026). IHSG turun 0,20% ke level 8.992,18 setelah bergerak fluktuatif sepanjang sesi.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menilai pergerakan IHSG masih cenderung rapuh secara teknikal meski sempat terdorong sentimen positif dari pasar global. Pada perdagangan Kamis, sektor noncyclical mencatatkan penguatan terbesar, sementara sektor energi menjadi penekan utama indeks.
Menurut Alrich, sentimen global sempat membaik seiring meredanya ketegangan Amerika Serikat dan Eropa. Hal ini menyusul pernyataan Presiden Donald Trump yang menyatakan tidak akan memberlakukan tarif 10% terhadap Eropa pada 1 Februari 2026 serta tidak akan menggunakan kekerasan untuk menguasai Greenland.
Ia menambahkan, pernyataan Trump mengenai kesepakatan kerangka kerja Greenland serta sikap Pemerintah Denmark yang membuka ruang dialog turut mendorong penguatan bursa Asia dan Eropa. Kondisi tersebut sempat memicu rebound IHSG, namun dinilai belum cukup kuat untuk mengubah arah tren jangka pendek.
Dari sisi teknikal, Alrich menyebut IHSG masih ditutup di bawah MA5 dan indikator MACD berpotensi membentuk death cross. Dengan demikian, risiko koreksi lanjutan dinilai masih terbuka.
Untuk perdagangan Jumat (23/1/2026), Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan koreksi dengan menguji area support pada kisaran 8.850–8.950. Sementara itu, resistance berada di level 9.050 dengan pivot di 8.950.
Dari pasar valuta asing, rupiah di pasar spot ditutup menguat ke level Rp16.885 per dolar AS pada Kamis (22/1/2026). Penguatan rupiah didukung keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang mempertahankan BI Rate, serta komitmen BI untuk melakukan intervensi demi menjaga stabilitas nilai tukar, meski indeks dolar AS cenderung menguat.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati rilis data M2 Money Supply Indonesia untuk Desember 2025. Dari kawasan Asia, perhatian tertuju pada data inflasi Jepang yang diperkirakan melambat menjadi 2,7% secara tahunan, serta hasil pertemuan Bank of Japan yang diprediksi mempertahankan suku bunga di level 0,75%.
Dari Amerika Serikat, pasar juga menantikan rilis data manufaktur dan jasa, serta Michigan Consumer Sentiment Final Januari 2026.
Adapun saham yang menjadi perhatian: ISAT, KLBF, TLKM, AALI, dan ASRI.

