BERITA TERKINI
Harga Emas Perhiasan Jadi Penyumbang Terbesar Inflasi 2025, Tekanannya Tak Selalu Terasa

Harga Emas Perhiasan Jadi Penyumbang Terbesar Inflasi 2025, Tekanannya Tak Selalu Terasa

JAKARTA — Inflasi nasional sepanjang tahun kalender 2025 tercatat relatif terkendali di level 2,92 persen. Namun, Badan Pusat Statistik (BPS) menyoroti adanya sumber tekanan harga yang kerap luput disadari, terutama oleh kelas menengah, yakni lonjakan harga emas perhiasan yang menjadi penyumbang inflasi tahunan terbesar sepanjang 2025.

Kepala BPS RI Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan, karakter inflasi di Indonesia berbeda dengan negara maju. Menurut dia, inflasi domestik lebih banyak dipengaruhi sisi pasokan. Ketika pasokan terganggu—baik karena faktor global maupun domestik—tekanan harga dapat cepat terbentuk.

“Di Indonesia, terbukti kalau inflasinya sangat dipengaruhi oleh sisi suplai. Begitu suplai sulit maka inflasi tumbuh,” ujar Amalia saat ditemui di Kantor BPS, Selasa (20/1/2026).

Dalam rilis inflasi 2025, emas perhiasan menempati posisi teratas sebagai komoditas dengan andil inflasi tahunan terbesar, yakni 0,79 persen. Secara tahunan, harga emas mencatat inflasi hingga 58,98 persen pada Desember 2025. Emas juga tercatat menjadi penyumbang inflasi bulanan sebanyak 11 kali sepanjang 2025.

Amalia menyebut lonjakan itu bersumber dari kenaikan harga emas di pasar internasional yang kemudian ditransmisikan ke harga emas perhiasan di dalam negeri. “Kalau harga emas di pasar internasional naik, tentunya ini akan ditransmisikan ke dalam harga emas perhiasan,” katanya.

Pada Desember 2025, inflasi bulanan emas perhiasan masih berada di level tinggi, yakni 3,4 persen, dengan andil inflasi 0,07 persen. Kondisi ini membuat emas menjadi salah satu faktor penentu inflasi, meski tidak semua masyarakat membeli emas secara rutin setiap bulan.

BPS juga melakukan simulasi sederhana untuk menggambarkan dampak emas terhadap inflasi nasional. Jika harga emas perhiasan dianggap stabil atau tidak mengalami inflasi, maka inflasi tahunan Indonesia pada Desember 2025 hanya berada di level 2,13 persen. “Artinya seandainya emas tidak mengalami inflasi maka inflasi Indonesia sesungguhnya pada Desember 2025 secara tahunan adalah sebesar 2,13 persen,” ujar Amalia.

Menurut BPS, dampak kenaikan harga emas cenderung lebih terasa pada kelas menengah. Meski bukan barang konsumsi harian seperti beras atau cabai, emas memiliki bobot signifikan dalam keranjang konsumsi sebagian masyarakat. Emas kerap dibeli sebagai perhiasan, tabungan nilai, atau kebutuhan sosial tertentu. Ketika harganya melonjak tajam, tekanan tersebut tercatat sebagai inflasi meski tidak selalu terlihat dalam belanja rutin.

Amalia menjelaskan, andil inflasi dihitung berdasarkan dua faktor: perubahan harga dan proporsi konsumsi masyarakat terhadap komoditas tersebut. Karena emas memiliki nilai transaksi tinggi, kenaikan harganya dapat memberi dampak besar pada inflasi meskipun frekuensi pembeliannya tidak setinggi bahan pangan.

Selain emas, komoditas lain yang memberi andil inflasi pada 2025 antara lain cabai merah sebesar 0,18 persen, serta ikan segar, cabai rawit, dan beras yang masing-masing menyumbang 0,15 persen. Komoditas lain yang turut berkontribusi meliputi tarif air minum PAM, bawang merah, sigaret kretek mesin, telur ayam ras, minyak goreng, bensin, biaya sewa rumah, sigaret kretek tangan, dan uang kuliah akademi.

Amalia menegaskan, inflasi tidak selalu mencerminkan harga yang dibayar masyarakat. Inflasi merupakan ukuran perubahan harga, sedangkan yang dirasakan konsumen adalah level harga. “Inflasi rendah belum tentu mencerminkan level harga yang rendah,” ujarnya.

Ia mencontohkan harga minyak goreng yang dalam setahun terakhir relatif stabil di kisaran Rp 19.616 per liter. Meski inflasinya rendah, level harga tersebut tetap tinggi dan dirasakan langsung oleh masyarakat.

Di luar faktor emas, BPS juga mencatat gangguan pasokan akibat bencana turut memicu inflasi di sejumlah daerah. Pada Desember 2025, Aceh mengalami inflasi bulanan 3,60 persen, berbalik dari deflasi 0,67 persen pada November 2025. Sumatera Utara mencatat inflasi 1,66 persen, sedangkan Sumatera Barat 1,48 persen.

Menurut Amalia, inflasi di daerah terdampak bencana dipicu tersendatnya pasokan bahan pokok akibat gangguan infrastruktur. Komoditas penyebab inflasi pun dapat berbeda-beda, bergantung pada pola konsumsi masyarakat setempat. “Akibat bencana mereka mengalami inflasi ini karena memang sulitnya pasokan bahan makanan pokok akibat terganggunya infrastruktur,” tutup Amalia.