Harga emas (XAU/USD) mencetak rekor baru di atas level US$4.900 pada Kamis, memperpanjang kenaikan selama empat sesi perdagangan berturut-turut. Logam mulia itu sempat menyentuh US$4.906 dan pada saat penulisan diperdagangkan di sekitar US$4.903, menguat 1,60% pada hari tersebut.
Kenaikan ini terjadi meski sentimen pasar membaik dan ketegangan antara Amerika Serikat dan Eropa mereda. Perbaikan suasana pasar antara lain dipicu percakapan Presiden AS Donald Trump dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Swiss, yang diikuti keputusan Trump mencabut ancaman tarif terhadap delapan negara Eropa yang sebelumnya direncanakan berlaku mulai 1 Februari.
Dari sisi data ekonomi, indikator AS menunjukkan kinerja yang lebih kuat dari perkiraan. Biro Analisis Ekonomi AS melaporkan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III 2025 tumbuh 4,4% secara tahunan (YoY), melampaui ekspektasi 4,3% dan lebih tinggi dari 3,8% pada kuartal II. Pertumbuhan disebut didorong ekspor yang lebih kuat serta berkurangnya dampak dari persediaan.
Pasar tenaga kerja juga dinilai masih tangguh. Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan klaim tunjangan pengangguran awal untuk pekan yang berakhir 17 Januari naik menjadi 200.000, sedikit di atas angka sebelumnya yang direvisi menjadi 199.000, namun masih lebih rendah dibanding perkiraan 212.000.
Sementara itu, inflasi inti berdasarkan indeks harga belanja konsumsi pribadi (Core PCE)—pengukur inflasi yang menjadi acuan utama Federal Reserve—tercatat 2,7% YoY pada Oktober dan 2,8% pada November, sesuai perkiraan. Meski stabil, laju inflasi tersebut masih dinilai jauh dari target 2% The Fed.
Kombinasi data pertumbuhan yang kuat dan inflasi yang tidak menurun signifikan membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat berkurang. Dalam laporan ini disebutkan pemotongan suku bunga pada pertemuan The Fed 27–28 Januari sudah tidak diperkirakan lagi. Survei Reuters juga menunjukkan mayoritas ekonom memperkirakan The Fed akan menghentikan siklus pelonggaran pada pertemuan Januari, dan sebagian besar tidak melihat pelonggaran lanjutan selama Jerome Powell memimpin bank sentral.
Meski demikian, emas tetap diminati. Pasar uang masih memperhitungkan total pelonggaran sekitar 41 basis poin hingga akhir tahun, menurut data Prime Market Terminal. Pada saat yang sama, tekanan pada dolar AS turut memberi dukungan: Indeks Dolar AS (DXY) turun 0,47% ke 98,32, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun relatif stabil di 4,251%.
Dari sisi geopolitik, isu Greenland juga menjadi perhatian. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menyatakan pihaknya dapat mendiskusikan kesepakatan pertahanan dengan AS. Sebelumnya, Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen mengatakan Greenland tetap memandang serius keamanan di Arktik dan memilih Greenland seperti saat ini sebagai bagian dari Kerajaan Denmark. Saat ditanya mengenai “Golden Dome” AS, Nielsen menyebut yakin solusi yang menguntungkan semua pihak bisa ditemukan.
Untuk agenda ekonomi AS pada 23 Januari, pasar menantikan rilis S&P Global Flash PMI serta pembacaan final Sentimen Konsumen Universitas Michigan untuk Januari.
Secara teknikal, reli emas dinilai masih berpeluang berlanjut dengan target psikologis berikutnya di US$5.000. Namun, risiko koreksi tetap ada. Jika harga turun di bawah US$4.850, tekanan jual disebut dapat mengarah ke area permintaan berikutnya di US$4.766 (level tertinggi 20 Januari), dan setelahnya US$4.700.

