Jakarta — Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani menyatakan optimistis prospek perekonomian Indonesia pada tahun depan dapat lebih baik dibandingkan tahun ini. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5–5,2 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Menurut Aviliani, proyeksi tersebut didukung kondisi demografi Indonesia yang memiliki porsi penduduk muda besar, sehingga berpotensi menjadi penggerak konsumsi domestik. Ia menilai faktor demografi berpengaruh kuat terhadap perekonomian suatu negara, terutama melalui kontribusi konsumsi dan investasi yang dominan dalam pertumbuhan ekonomi.
Dalam Diskusi Media Allianz Indonesia yang digelar secara daring pada Selasa (9/12), Aviliani membandingkan laju pertumbuhan negara maju yang cenderung lebih rendah, sekitar 2–3 persen, karena mayoritas penduduknya memasuki usia tua (aging population). Kondisi tersebut, menurutnya, membuat kontribusi konsumsi dan investasi terhadap pertumbuhan ekonomi ikut menurun.
Sebaliknya, ia menyebut negara berkembang umumnya masih mencatat pertumbuhan rata-rata 4–6 persen, dan Indonesia termasuk di dalam kelompok tersebut. Untuk mencapai pertumbuhan 5–5,2 persen, Aviliani menekankan pentingnya menjaga daya beli masyarakat serta mendorong peningkatan investasi. Ia menilai peran sektor swasta dan badan usaha milik negara (BUMN) perlu didorong agar dapat berinvestasi dengan pergerakan yang lebih cepat, sehingga konsumsi dan investasi menjadi penopang utama pertumbuhan.
Aviliani juga menilai prospek pertumbuhan ekonomi domestik tahun depan terbantu oleh berkurangnya sikap wait and see investor terhadap pemerintahan baru setelah berjalan satu tahun. Ia menyebut Indonesia masih diperhitungkan investor, tercermin dari besarnya arus investasi dan dana asing yang masuk, yang menunjukkan adanya peluang Indonesia untuk bersaing dengan negara tujuan investasi lainnya.
Meski demikian, Aviliani mengingatkan masih ada tantangan yang perlu dijawab, terutama terkait pemerataan ekonomi. Ia menilai kondisi fluktuasi ekonomi saat ini berdampak berbeda pada berbagai kelompok masyarakat: sebagian mengalami gangguan daya beli, sementara kelompok lain tidak terlalu terpengaruh. Menurutnya, tugas pemerintah bukan hanya menjaga pertumbuhan sekitar 5 persen, tetapi juga memastikan pertumbuhan tersebut lebih merata dan berkualitas.

