MALANG — Sistem pembayaran nontunai melalui QRIS kian populer di kalangan mahasiswa Gen Z karena dinilai praktis dan cepat. Namun, kemudahan tersebut juga menyimpan risiko finansial yang kerap tidak disadari, terutama terkait menurunnya kesadaran terhadap pengeluaran sehari-hari.
Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ainur Rifqi Almahdani Rahmat, menilai transaksi digital dapat menciptakan “ilusi” karena pengguna tidak merasakan berkurangnya uang secara nyata sebagaimana ketika membayar dengan uang tunai. Menurutnya, perbedaan sensasi psikologis ini dapat menurunkan hambatan untuk berbelanja.
Rifqi menjelaskan, saat menggunakan uang tunai, seseorang merasakan kehilangan secara langsung karena uang fisik berpindah tangan dan terlihat berkurang. Sementara pada pembayaran digital seperti QRIS, proses transaksi yang instan membuat perasaan tersebut memudar. Ia menyebut kondisi ini dapat memicu “latte factor”, yakni kebiasaan mengeluarkan uang dalam jumlah kecil secara rutin—seperti membeli kopi atau jajanan—yang sering dianggap sepele, tetapi berdampak pada tabungan di akhir bulan.
“Secara psikologis, ketika kita mengeluarkan uang fisik, ada sensasi kehilangan yang benar-benar terasa. Namun saat menggunakan QRIS, perasaan itu cenderung memudar karena prosesnya sangat singkat, cukup klik, scan, lalu transaksi selesai,” ujarnya kepada tim humas UMM pada 19 Januari.
Di sisi lain, Rifqi mengakui QRIS memiliki berbagai keuntungan, seperti kemudahan transaksi tanpa uang kembalian serta pencatatan otomatis di aplikasi. Meski demikian, ia menilai tantangan utama terletak pada kontrol diri yang dapat melemah, terutama ketika pengguna tergoda promo seperti cashback.
Menurutnya, promo tersebut merupakan strategi bisnis untuk membentuk kebiasaan belanja berulang (repeat order). Konsumen yang awalnya tidak membutuhkan suatu barang atau layanan bisa terdorong membeli karena merasa mendapat potongan harga, meski dalam jangka panjang perusahaan yang paling diuntungkan.
“Dalam jangka panjang, perilaku konsumtif naik karena terbentuk kebiasaan baru, yang semula bukan kebutuhan menjadi keinginan karena adanya promo, sehingga akhirnya terjadi repeat order secara terus-menerus,” kata Rifqi.
Ia juga mengingatkan dampak jangka panjang dari ilusi saldo digital, yakni terbentuknya mentalitas keuangan yang kurang disiplin karena nilai uang terasa lebih abstrak. Tanpa evaluasi rutin, pengguna—terutama Gen Z—berisiko mengalami defisit anggaran karena merasa saldo masih cukup padahal pengeluaran harian sudah melampaui batas yang ditetapkan.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Rifqi menyarankan penggunaan satu aplikasi khusus untuk transaksi harian melalui QRIS agar rekapitulasi dan evaluasi pengeluaran bulanan lebih mudah dilakukan.
“Gunakan satu aplikasi khusus untuk transaksi QRIS, lalu biasakan mengecek rekap pengeluaran bulanan agar tujuan keuangan jangka panjang tetap terjaga dan tabungan tidak habis oleh pengeluaran kecil yang sering tidak terasa,” pungkasnya.
Dengan langkah pengelolaan yang lebih terukur, ia berharap mahasiswa tetap dapat memanfaatkan kemudahan teknologi tanpa kehilangan kendali atas kondisi finansialnya.

