Dolar AS bergerak sedikit menguat pada perdagangan pagi 23 Januari, namun tetap berada di jalur penurunan mingguan paling tajam dalam setahun. Pelemahan ini terjadi setelah pernyataan terkait Greenland dan perubahan sikap mendadak Presiden AS Donald Trump memicu ketidakpastian di kalangan investor. Di saat yang sama, yen Jepang berfluktuasi di dekat level terendah dalam sepekan menjelang keputusan kebijakan Bank Sentral Jepang (BoJ) yang diperkirakan diumumkan pada Jumat sore.
Sentimen pasar pekan ini dibayangi lanskap geopolitik yang berubah cepat. Trump menyatakan Amerika Serikat telah mengamankan akses ke Greenland melalui kesepakatan dengan NATO. Pernyataan tersebut beriringan dengan penarikan ancaman tarif terhadap Eropa serta penolakannya terhadap kemungkinan penggunaan kekuatan untuk mengendalikan wilayah otonom Denmark itu.
Dolar menjadi pusat tekanan di pasar valuta asing setelah aset AS mengalami aksi jual besar-besaran pada awal pekan, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik. Indeks dolar AS (USD Index), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama, diperkirakan turun sekitar 1% pekan ini, menjadi penurunan terburuk sejak Januari 2025.
Euro diperdagangkan mendatar di level US$1,1751, bergerak di sekitar puncak tiga pekan yang sempat dicapai pada awal minggu. Sementara poundsterling Inggris berada di kisaran US$1,3496, mendekati level tertinggi dua pekan pada sesi sebelumnya.
Ahli strategi valuta asing dan suku bunga global Macquarie Group, Thierry Wizman, menilai kesepakatan terkait Greenland dapat meredakan risiko langsung terkait tarif dan potensi konflik militer. Namun, menurutnya, kesepakatan itu belum menyentuh persoalan utama, yakni membesarnya keretakan di antara sekutu.
“Dan itu bukanlah situasi yang menguntungkan jika AS ingin mempertahankan posisi dolar sebagai mata uang cadangan global,” kata Wizman.
Perhatian pasar berikutnya tertuju pada Bank Sentral Jepang dan pernyataan Gubernur Kazuo Ueda. Investor diperkirakan mencermati keputusan kebijakan BoJ pada Jumat, di tengah ekspektasi kuat bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga, setelah menaikkan suku bunga acuan ke level tertinggi dalam 30 tahun pada pertemuan bulan lalu.
Pasar juga akan mengamati pernyataan Ueda untuk menilai waktu kenaikan suku bunga berikutnya, termasuk kemungkinan sinyal sikap yang lebih agresif guna menopang yen yang melemah.
Yen berada di bawah tekanan jual sejak Sanae Takaichi menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang pada Oktober 2025. Mata uang tersebut telah turun lebih dari 4% di tengah kekhawatiran fiskal, dan bergerak di dekat ambang batas yang sebelumnya memicu peringatan lisan dari pejabat Jepang serta meningkatkan risiko intervensi pasar.
Pada perdagangan awal Asia, yen berfluktuasi di sekitar 158,50 per dolar AS dan berpotensi mencatat pelemahan mingguan untuk pekan keempat berturut-turut, rangkaian yang terakhir kali terjadi pada September. Pelaku pasar mencermati level 160 per dolar AS, karena ada kekhawatiran Tokyo dapat terdorong melakukan intervensi bila pelemahan menembus batas tersebut.
Kepala Riset Pendapatan Tetap untuk Asia di Julius Baer, Magdalene Teo, menilai aksi jual yen berlanjut karena investor memandang kebijakan moneter BoJ masih terlalu longgar, sementara risiko inflasi meningkat.
“Agar yen Jepang dapat menguat secara berkelanjutan, diperlukan arus investasi domestik yang kuat dan keyakinan bahwa kebijakan Takaichi pada akhirnya akan menghasilkan pertumbuhan dan peningkatan kesehatan fiskal, alih-alih menyebabkan keruntuhan,” ujarnya.
Data yang dirilis pada Jumat menunjukkan inflasi inti Jepang untuk tahun yang berakhir pada Desember 2025 telah mendingin, namun tetap berada di atas target 2% BoJ. Kondisi ini memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga pada periode mendatang.
Sementara itu, aksi jual di pasar obligasi pekan ini menyoroti kekhawatiran investor mengenai kondisi fiskal Jepang. Situasi tersebut menguat setelah Takaichi menyerukan pemilihan umum dini dan menjanjikan pemotongan pajak, yang mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) melonjak ke rekor tertinggi.
Manajer portofolio Brandywine Global, Carol Lye, menilai otoritas Jepang perlu menyampaikan rencana yang lebih konkret untuk menenangkan pasar.
“Tanpa tindakan nyata, semuanya hanya omong kosong. Itu tidak akan cukup untuk menstabilkan pasar,” katanya. Ia menambahkan bahwa tanpa langkah yang jelas, obligasi pemerintah Jepang di sepanjang kurva imbal hasil masih berpeluang mengalami volatilitas signifikan, sementara kenaikan suku bunga dinilai berlangsung terlalu lambat.
Di luar itu, dolar Australia tercatat tidak berubah di US$0,6841, sedangkan dolar Selandia Baru turun 0,25% menjadi US$0,5914. Bitcoin naik 0,37% ke US$89.518,13, bergerak menjauh dari titik terendah mingguan sebelumnya.

