Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadiri pertemuan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, dua hari lalu. Dalam laporan tersebut, kedatangannya digambarkan berlangsung tanpa rangkaian seremoni, dengan helikopter kepresidenan menurunkannya di bandara Davos yang bersalju dan Trump berjalan sendiri di atas karpet merah tanpa sambutan meriah seperti protokol biasanya.
Situasi itu disebut mencerminkan sikap sebagian negara Eropa yang dinilai tengah merenggang terhadap Trump. Namun, dalam sesi pidatonya di forum tersebut, Trump disebut tidak menurunkan tensi. Ia justru mengangkat kembali memori Perang Dunia II dan menekankan peran Amerika Serikat dalam kemenangan atas Jerman dan Jepang.
Dalam pidato itu, Trump juga menyinggung kontribusi Denmark yang ia nilai kecil dalam perang, dengan menyebut negara tersebut cepat menyerah kepada Jerman. Ia kemudian menyampaikan pernyataan bernada sindiran bahwa tanpa Amerika Serikat, negara-negara lain mungkin akan menggunakan bahasa Jerman atau Jepang dalam percakapan sehari-hari.
Pernyataan tersebut dikaitkan dengan penolakan sebagian negara sekutu di Eropa terhadap rencana aneksasi Amerika Serikat atas Greenland, wilayah milik Kerajaan Denmark. Di sisi lain, laporan itu menilai penyebutan jasa Amerika Serikat dalam Perang Dunia II tidak bisa disederhanakan, karena Amerika Serikat masuk ke perang setelah diserang Jepang di Pearl Harbor pada Desember 1941.
Rencana pengambilalihan Greenland disebut dipandang sebagai ambisi teritorial dan dinilai tidak menghargai hukum internasional. Laporan itu juga mengajukan pandangan bahwa memperkuat persekutuan dengan Eropa akan lebih efektif untuk menghadapi ancaman dari blok Tiongkok-Rusia dibanding menghadapi situasi tersebut sendirian.
Selain itu, laporan tersebut menyinggung bahwa upaya menjalankan peran sebagai “polisi dunia” bukan perkara mudah dan membutuhkan biaya besar, di tengah arah kebijakan Trump yang dikaitkan dengan semboyan “to make America great again”.

