BERITA TERKINI
Danantara: Hampir 65% Pendapatan Singapore Airlines Berasal dari Rute Indonesia, Garuda Dinilai Punya Peluang Rebut Pasar

Danantara: Hampir 65% Pendapatan Singapore Airlines Berasal dari Rute Indonesia, Garuda Dinilai Punya Peluang Rebut Pasar

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia menyebut hampir 65% total pendapatan Singapore Airlines berasal dari penerbangan dari dan ke Indonesia. Pernyataan ini dinilai menjadi tantangan sekaligus peluang bagi PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) untuk memperkuat posisinya di rute Indonesia–Singapura.

Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia, Rohan Hafas, mengatakan kontribusi pendapatan dari rute Indonesia bagi Singapore Airlines lebih besar dibandingkan sejumlah rute jarak jauh. Ia menyoroti perbedaan frekuensi penerbangan kedua maskapai, di mana Singapore Airlines disebut melayani sekitar 6–8 penerbangan per hari ke Indonesia, sementara Garuda hanya 1–2 penerbangan per hari ke Singapura.

Rohan juga menyampaikan bahwa rute internasional jarak jauh bagi Singapore Airlines tidak selalu menguntungkan karena persaingan ketat dengan maskapai lain seperti Qatar Airways dan Emirates. Dalam konteks itu, ia menilai rute Indonesia–Singapura justru menjadi sumber pendapatan besar bagi maskapai Singapura tersebut.

Ia turut mengulas kondisi Garuda pada masa pandemi Covid-19. Menurutnya, saat itu Garuda menghadapi tekanan berat karena biaya sewa pesawat tetap berjalan sementara jumlah penumpang turun drastis. Situasi tersebut menyebabkan pendapatan menurun tajam, bahkan disebut ada pesawat yang disita sehingga tidak dapat beroperasi. Rohan menyebut armada yang beroperasi kala itu hanya tersisa sekitar tiga hingga empat pesawat, dan Garuda banyak ditopang oleh anak usahanya, Citilink.

Pasca-pandemi, Garuda kembali beroperasi dengan sejumlah perbaikan manajemen. Namun, Rohan menilai pemulihan maskapai sekelas Garuda membutuhkan waktu. Karena itu, ia menyebut tahun 2025 bukan periode untuk mengejar laba, melainkan difokuskan pada restrukturisasi organisasi, stabilisasi, dan perbaikan operasional.

Di sisi lain, Danantara menyatakan tengah menjalankan transformasi untuk menyehatkan Garuda, termasuk menyiapkan suntikan modal hingga Rp 23,67 triliun. Managing Director Non-Financial Holding Operasional Danantara, Febriany Eddy, mengatakan dukungan tersebut tidak sebatas pendanaan. Ia menegaskan Danantara akan mengawal proses transformasi hingga ke level operasional.

Adapun berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Garuda mencatat rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk hingga kuartal III 2025 sebesar US$ 182,54 juta atau sekitar Rp 3,04 triliun. Kerugian itu disebut meningkat 39,3% secara tahunan. Pada periode yang sama, pendapatan usaha turun menjadi US$ 2,39 miliar dari US$ 2,56 miliar pada kuartal III 2024.