BERITA TERKINI
Daftar 300 Fintech Terkemuka Dunia 2025 Dirilis, Termasuk Perusahaan dari Indonesia

Daftar 300 Fintech Terkemuka Dunia 2025 Dirilis, Termasuk Perusahaan dari Indonesia

Industri financial technology (fintech) terus berkembang seiring kemunculan teknologi baru yang mengubah layanan keuangan global, mulai dari kecerdasan buatan (AI) hingga aset kripto. Namun, di tengah laju inovasi tersebut, sektor fintech masih menghadapi tantangan, terutama belum pulihnya pendanaan ke level puncak seperti pada masa pandemi 2020–2021.

Laporan Pulse of Fintech dari KPMG mencatat investasi global di sektor fintech turun 20% menjadi USD 95,6 miliar, atau sekitar Rp 1,56 kuadriliun (dengan estimasi kurs Rp 16.300) pada tahun lalu. Angka ini disebut sebagai level terendah dalam tujuh tahun terakhir.

Di sisi pasar modal, aktivitas juga masih lesu. Sejumlah rencana penawaran saham perdana (IPO) serta aksi merger dan akuisisi dilaporkan tertunda.

Meski demikian, inovasi di bidang teknologi tetap berjalan. Model AI yang semakin canggih mendorong perusahaan meninjau ulang strategi layanan pelanggan dan memperkuat sistem deteksi penipuan. Sementara itu, sistem pembayaran mulai mengadopsi stablecoin untuk memungkinkan transaksi instan tanpa batas waktu.

Dalam dinamika tersebut, CNBC bersama Statista merilis daftar 300 perusahaan fintech terkemuka di dunia untuk 2025. Daftar ini mencakup perusahaan besar maupun rintisan dalam tujuh segmen pasar. Penyusunannya dilakukan tanpa pemeringkatan dan diurutkan berdasarkan abjad. Daftar tersebut juga mencantumkan perusahaan dari Indonesia.

Proses pemilihan dilakukan melalui riset meja oleh Statista dengan masukan editorial dari CNBC. Pada Februari, CNBC membuka pendaftaran bagi perusahaan fintech yang ingin masuk dalam daftar. Perusahaan diminta mengirimkan indikator kinerja utama, seperti pendapatan, tingkat pertumbuhan, dan jumlah karyawan kepada Statista. Informasi tersebut bersifat rahasia dan tidak dipublikasikan.

Selain pendaftaran terbuka, Statista juga menganalisis sekitar 2.000 perusahaan tambahan untuk memastikan daftar yang disusun mewakili lanskap industri secara luas. Penilaian dilakukan menggunakan sejumlah indikator kinerja umum (KPI) serta metrik khusus yang disesuaikan dengan masing-masing kategori sektor.