BERITA TERKINI
BPS Catat Ekonomi Tumbuh 5,04% pada Kuartal III 2025, Kadin Nilai Jadi Modal Kejar Target 8% pada 2029

BPS Catat Ekonomi Tumbuh 5,04% pada Kuartal III 2025, Kadin Nilai Jadi Modal Kejar Target 8% pada 2029

Jakarta — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Kuartal III 2025 tetap stabil sebesar 5,04% secara tahunan (year-on-year/y-o-y). Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai capaian tersebut dapat menjadi fondasi untuk mengejar target pertumbuhan 8% pada 2029.

Ketua Komite Tetap Perencanaan Ekonomi Kadin Indonesia, Ikhwan Primanda, mengatakan upaya mencapai target tersebut perlu ditopang sinergi untuk meningkatkan produktivitas. “Mulai sekarang kita harus lebih fokus untuk bersinergi meningkatkan produktivitas agar pertumbuhan 8% bisa kita capai secepatnya,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Kamis (6/11).

Primanda menyoroti peran industri pengolahan sebagai kontributor terbesar perekonomian, dengan kontribusi 19,15% terhadap produk domestik bruto (PDB). Pada Kuartal III 2025, sektor industri pengolahan/manufaktur tumbuh 5,54% (y-o-y). Ia juga mencatat PMI Manufaktur Indonesia berada pada level ekspansi sejak Agustus dan mencapai 51,2 pada September 2025.

Karena itu, Kadin berharap pemerintah melanjutkan penguatan industri nasional melalui transformasi industri, termasuk mendorong tumbuhnya industri bahan baku, bahan antara, dan industri hilir yang dinilai berpotensi menyerap tenaga kerja. Menurut Primanda, dorongan investasi yang membawa teknologi tepat guna juga dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas, disertai upaya alih teknologi kepada pelaku lokal.

Di sisi lain, Kadin memaparkan data produktivitas pada Kuartal III 2025, yakni output PDB nominal per pekerja rata-rata Rp 13,78 juta per bulan. Empat sektor dengan produktivitas PDB per pekerja tertinggi adalah pertambangan (sekitar tujuh kali rata-rata), real estate serta informasi dan komunikasi (sekitar enam kali rata-rata), dan penyediaan listrik dan gas (sekitar empat kali rata-rata). Kadin menilai tingginya produktivitas sektor-sektor tersebut berkaitan dengan karakter yang padat teknologi dan padat modal, serta kebutuhan sumber daya manusia terampil.

Dari sisi lapangan usaha, sektor jasa perusahaan tercatat tumbuh 9,94%. Primanda menilai pertumbuhan ini dapat menjadi indikasi awal meningkatnya gairah berusaha, dan berharap diikuti penguatan sektor primer dan sekunder yang terkait dengan pengguna jasa tersebut.

Pada sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicatat aktivitas ekspor yang tumbuh 9,91% pada Kuartal III 2025. Komoditas yang disebut sebagai kontributor utama antara lain lemak dan minyak nabati (tumbuh 50%), besi dan baja, mesin/peralatan listrik, perhiasan/permata (tumbuh 82%), serta kendaraan dan komponennya (tumbuh 8%). Kadin menilai Indonesia perlu meningkatkan daya saing ekspor untuk industri mesin/peralatan listrik, kendaraan dan komponennya, serta industri hilir bernilai tambah lainnya.

Sementara itu, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama perekonomian dengan kontribusi 53%. Namun pada Kuartal III 2025, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,89%. Kadin mendorong pemerintah menjaga daya beli kelas menengah dan calon kelas menengah yang disebut menyumbang lebih dari 80% konsumsi rumah tangga nasional.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perencanaan Pembangunan Nasional (Bippenas), Bayu Priawan Djokosoetono, mengapresiasi paket stimulus ekonomi 8+4+5 yang telah berjalan terutama sejak Oktober. Ia mencontohkan program magang bagi fresh graduate yang disebut menarik 156 ribu pendaftar. Namun, Kadin juga berharap pemerintah melengkapi kebijakan tersebut dengan stimulus pariwisata untuk mendorong perjalanan wisata menjelang liburan Natal dan Tahun Baru 2025.

Kadin turut mengapresiasi belanja pemerintah yang tumbuh 5,49% pada Kuartal III 2025. Bayu berharap penyerapan anggaran pada akhir 2025 dapat meningkat dengan kualitas penyerapan yang baik dan program tepat sasaran untuk memperkuat daya beli masyarakat serta menggairahkan perdagangan sebagai penyumbang PDB terbesar ketiga.

Bayu juga menekankan perlunya pertumbuhan berbasis produktivitas. Ia menyebut, selama ini pertumbuhan ekonomi lebih banyak didorong peningkatan input modal/investasi dan penambahan tenaga kerja. Mengacu pada APO Databook 2025, kontribusi Total Factor Productivity (TFP) terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia disebut hampir nol, sementara Vietnam mencapai 8% dan China 26%.

Dari sektor pangan, Ketua Komite Tetap Perencanaan Pangan Kadin Indonesia, Frans Tambunan, menyoroti pertanian sebagai sektor kedua terbesar dengan kontribusi 14,35% terhadap PDB, namun hanya tumbuh 4,93% pada Kuartal III 2025. Padahal, sektor ini menyerap 28,15% pekerja Indonesia. Ia menyebut produktivitas pertanian sekitar 0,5 dari rata-rata nasional PDB per pekerja, dan mendorong modernisasi pertanian melalui inovasi, investasi teknologi tepat guna, optimalisasi lahan, pembukaan lahan pertanian dan perkebunan baru, serta penguatan sektor perikanan.

Sementara dari sisi pendidikan, Ketua Komite Tetap Perencanaan Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kadin Indonesia, Sari W. Pramono, menyampaikan sektor pendidikan tumbuh 10,59%—tertinggi dibanding sektor lain pada Kuartal III 2025—sejalan dengan data peningkatan biaya masuk sekolah pada tahun ajaran baru. Meski demikian, kontribusi jasa pendidikan terhadap total ekonomi disebut baru 2,74%. Kadin menyatakan dukungan terhadap kenaikan gaji guru dan dosen pada 2025, dengan alasan peningkatan kesejahteraan pendidik penting bagi kualitas pendidikan serta dapat membantu mendorong konsumsi rumah tangga.